Dinkes Tanjungpinang Ajak Warga Bergejala TBC Segera Berobat
Dinas Kesehatan Tanjungpinang mengajak warga dengan gejala tuberkulosis (TBC) untuk segera memeriksakan diri dan menjalani pengobatan guna mencegah penularan lebih lanjut.

Tanjungpinang, 02 Maret 2024 (ANTARA) - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesP2KB) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) mengimbau masyarakat yang mengalami gejala tuberkulosis (TBC) untuk segera memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan terdekat. Imbauan ini disampaikan menyusul masih ditemukannya kasus TBC di wilayah tersebut.
Kepala DinkesP2KB Tanjungpinang, Rustam, dalam keterangannya pada Minggu, menekankan pentingnya dukungan masyarakat dalam penuntasan kasus TBC. "Kami mengajak masyarakat bersama-sama mendukung penuntasan tuberkulosis, khususnya di wilayah Tanjungpinang," ujarnya. Rustam juga menjelaskan bahwa penuntasan TBC merupakan program prioritas nasional, sejalan dengan program kesehatan lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG).
Partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan dalam upaya ini. Rustam menjabarkan dua hal penting yang harus dilakukan. Pertama, warga yang merasakan gejala TBC harus segera mengunjungi layanan kesehatan untuk pemeriksaan. Kedua, mereka yang dinyatakan positif TBC atau kontak erat dengan penderita harus menjalani terapi pengobatan hingga tuntas. Hal ini dinilai krusial untuk memutus rantai penularan.
Gejala TBC dan Kelompok Risiko
Rustam menjelaskan beberapa gejala yang perlu diwaspadai sebagai indikasi TBC, antara lain batuk lebih dari tiga hari, terutama yang disertai dahak atau bahkan darah. Gejala lain meliputi penurunan berat badan yang signifikan, kurang nafsu makan, dan sering berkeringat di malam hari tanpa melakukan aktivitas berat. "Makin perlu waspada jika salah satu gejala tersebut terjadi pada orang dengan HIV/AIDS, perokok, ibu hamil dan pengidap diabetes," imbuhnya.
Layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC tersedia di berbagai fasilitas kesehatan di Tanjungpinang, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan praktik dokter mandiri. Dinas Kesehatan telah menjalin kerja sama dengan setidaknya enam praktik dokter dan 40 klinik untuk memberikan pelayanan TBC.
Data yang disampaikan Rustam menunjukkan adanya 8.384 orang terduga TBC pada tahun 2024, dengan 834 kasus dinyatakan positif. Sementara hingga 26 Februari 2025, tercatat 1.259 orang terduga TBC dan 113 kasus positif. Angka ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dan upaya pencegahan yang lebih intensif.
Pentingnya Terapi Pencegahan dan Pengobatan Tuntas
Rustam menyoroti masalah kepatuhan pengobatan pada penderita TBC positif. Pada tahun 2024, tercatat 87 penderita TBC di Tanjungpinang yang tidak menyelesaikan pengobatan. Hal ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menyebabkan penularan lebih luas. "Bayangkan saja kalau 87 orang yang tidak berobat ini kontak erat dengan rata-rata 10 orang saja, maka akan terdapat 870 orang lainnya yang potensial ikut tertular tuberkulosis," jelasnya.
Untuk mencegah penularan, Rustam menekankan pentingnya Terapi Pencegahan TB (TPT), tidak hanya bagi penderita positif, tetapi juga bagi kontak erat penderita, meskipun hasil pemeriksaan negatif. TPT saat ini menggunakan obat yang diminum satu minggu sekali selama tiga bulan, lebih pendek dibandingkan pengobatan TBC positif yang membutuhkan konsumsi obat harian selama enam bulan.
TBC merupakan penyakit bakteri menular yang serius, terutama menyerang paru-paru. Oleh karena itu, deteksi dini dan pengobatan yang tuntas sangat penting untuk mencegah penyebaran dan komplikasi lebih lanjut. DinkesP2KB Tanjungpinang berharap masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya penuntasan TBC di wilayah tersebut.