IHSG Anjlok, Sentimen Danantara di Tengah Tekanan Global
Anjloknya IHSG di tengah pengumuman kepengurusan Danantara memicu pertanyaan tentang dampak sovereign wealth fund terhadap pasar saham Indonesia dan sentimen investor.

Pada Senin, 24 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan sebesar 1,55 persen atau 97 poin, ditutup pada level 6.161,22. Penurunan ini sempat mencapai lebih dari 4,6 persen sebelum mengalami rebound. Peristiwa ini terjadi di tengah pengumuman struktur kepengurusan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, sovereign wealth fund Indonesia, dan menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap pasar saham.
Pelemahan IHSG ini mengejutkan sebagian investor ritel, namun Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa penurunan tersebut lebih dipengaruhi oleh tekanan eksternal, seperti arus keluar modal asing yang signifikan dan kekhawatiran global terkait kebijakan suku bunga The Fed serta eskalasi ketegangan geopolitik. Fundamental ekonomi nasional, menurutnya, tetap solid.
Data Bank Indonesia menunjukkan net outflow modal asing lebih dari 2,4 miliar dolar AS pada kuartal IV 2024, dengan 1,9 miliar dolar AS berasal dari pasar saham. Pada pekan kedua Maret 2025, arus keluar asing mencapai Rp10,15 triliun, menunjukkan tren global menarik dana dari emerging markets.
Dampak Pengumuman Danantara terhadap IHSG
Pengumuman struktur kepengurusan Danantara menjadi sorotan di tengah tekanan eksternal. Pasar berharap Danantara dapat mendorong investasi asing ke sektor-sektor strategis seperti infrastruktur dan energi terbarukan. Namun, berbagai pihak memiliki pandangan berbeda tentang dampak pengumuman tersebut terhadap IHSG.
Kepala Badan Pelaksana (CEO) BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa penurunan IHSG bukan respons negatif terhadap Danantara, melainkan dampak pelemahan bursa saham di negara-negara ASEAN lainnya. Sementara itu, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, berpendapat bahwa pengumuman tersebut tidak memberikan sentimen langsung pada IHSG, dan penurunan indeks lebih disebabkan oleh pesimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Rully menambahkan bahwa saham-saham spekulatif lebih banyak mengalami pelemahan, sementara saham-saham terkait Danantara, seperti BMRI dan BBRI, justru menguat. Hal ini menunjukkan kompleksitas faktor yang mempengaruhi IHSG.
Analisis dan Prospek Pasar
Meskipun tekanan pasar diperkirakan berlanjut, investor jangka panjang melihatnya sebagai peluang akumulasi. Strategi diversifikasi dan disiplin investasi tetap penting. Saham-saham berfundamental kuat, terutama di sektor perbankan nasional (BCA, BRI, Mandiri), masih menunjukkan daya tahan tinggi berkat permodalan kuat dan kualitas aset yang terjaga.
Pemerintah memandang Danantara sebagai upaya strategis untuk memastikan Indonesia siap menghadapi pemulihan ekonomi dan menarik investasi jangka panjang. Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menambahkan pentingnya peningkatan pendapatan dari sektor ekspor, pariwisata, dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, stabilitas makroekonomi, kebijakan fiskal yang hati-hati, dan institusi yang kredibel seperti Danantara diharapkan dapat mendorong pemulihan dan pertumbuhan berkelanjutan pasar modal Indonesia. Fase koreksi ini dilihat sebagai bagian dari siklus pasar yang akan segera berganti dengan pemulihan.
Meskipun IHSG mengalami penurunan yang signifikan, investor dengan strategi jangka panjang dan diversifikasi portofolio yang baik diyakini akan mampu melewati masa koreksi ini dan meraih keuntungan di masa pemulihan mendatang. Peran Danantara sebagai instrumen investasi jangka panjang diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.