Struktur Pengurus Danantara Bukan Penyebab Koreksi IHSG, Kata Ekonom
Ekonom menilai koreksi IHSG pada Senin (24/3) bukan disebabkan oleh pengumuman struktur pengurus Danantara, melainkan sentimen pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan data ekonomi AS.

Jakarta, 24 Maret 2024 - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup signifikan pada Senin (24/3), ditutup melemah 96,96 poin atau 1,55 persen ke posisi 6.161,22. Namun, menurut para ekonom, hal ini bukan disebabkan oleh pengumuman struktur pengurus Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pelemahan IHSG lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa nama-nama dalam tim manajemen Danantara merupakan profesional berpengalaman, sehingga pengumuman struktur tersebut tidak menjadi faktor utama pelemahan IHSG. Ia menekankan bahwa pelemahan indeks lebih disebabkan oleh saham-saham spekulatif, sementara saham-saham terkait Danantara, seperti BMRI dan BBRI, justru mengalami penguatan.
Hal senada disampaikan oleh Ekonom dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee. Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar cenderung bersikap wait and see, menunggu data ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama data Produk Domestik Bruto (PDB) dan Price Consumer Index (PCE) Inti AS. Meskipun terdapat sentimen positif dari komentar Presiden AS Donald Trump terkait tarif impor, potensi pemotongan suku bunga oleh The Fed dan reformasi fiskal di Jerman, tetap ada kekhawatiran pasar terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Analisis Koreksi IHSG
Rully Arya Wisnubroto menjelaskan bahwa pesimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi faktor dominan dalam koreksi IHSG. Ia menambahkan bahwa saham-saham spekulatif lebih banyak mengalami pelemahan dibandingkan saham-saham yang terkait dengan Danantara. Pernyataan ini menunjukkan bahwa faktor internal, khususnya kinerja perusahaan, memiliki pengaruh lebih besar daripada faktor eksternal seperti pengumuman struktur pengurus Danantara.
Hans Kwee memberikan perspektif yang lebih global. Ia menunjuk pada sikap wait and see pelaku pasar yang menunggu data ekonomi AS. Data PDB dan PCE Inti AS yang akan dirilis pekan depan dianggap krusial untuk menentukan arah pasar. Meskipun ada sentimen positif dari AS dan Jerman, masalah spesifik di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, turut memengaruhi pasar regional.
Meskipun pasar Asia Tenggara mengalami penurunan, Hans Kwee melihat potensi positif. Valuasi yang murah setelah koreksi minggu ini dinilai menarik bagi investor global, termasuk di Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan akan libur panjang di akhir pekan depan yang secara historis berdampak negatif pada IHSG.
Dampak Koreksi pada Sektor dan Saham
Koreksi IHSG berdampak beragam pada sektor dan saham. Sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang menguat (3,67 persen), sementara sepuluh sektor lainnya melemah. Sektor energi mengalami pelemahan terbesar (2,49 persen), diikuti oleh sektor properti dan kesehatan. Saham INAI, RELI, POLU, JGLE, dan MIRA mengalami penguatan terbesar, sementara BINO, FORU, WINE, HITS, dan MSIN mengalami pelemahan terbesar.
Data perdagangan menunjukkan frekuensi transaksi sebanyak 1.061.000 kali, dengan volume saham 14,16 miliar lembar senilai Rp14,34 triliun. Sebanyak 142 saham naik, 523 saham turun, dan 292 saham stagnan. Pergerakan IHSG ini juga perlu dilihat dalam konteks pergerakan bursa saham regional Asia, dengan indeks Nikkei melemah, Shanghai menguat, Kuala Lumpur melemah, dan Straits Times menguat.
Kesimpulannya, koreksi IHSG pada Senin (24/3) lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi, bukan semata-mata karena pengumuman struktur pengurus Danantara. Para ekonom menekankan pentingnya memperhatikan data ekonomi AS dan faktor-faktor internal dalam menganalisis pergerakan IHSG ke depan.