IHSG Menguat 1,42 Persen di Tengah Pelemahan Bursa Asia
IHSG ditutup menguat 1,42 persen ke posisi 6.311,66, di tengah pelemahan bursa saham Asia, ditopang oleh pernyataan Menteri Keuangan dan aturan buyback saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil ditutup menguat pada Rabu sore, 19 Maret 2025, dengan peningkatan sebesar 88,27 poin atau 1,42 persen ke posisi 6.311,66. Kenaikan ini terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Penguatan IHSG ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk pernyataan Menteri Keuangan dan regulasi baru terkait buyback saham.
Kenaikan IHSG ini terjadi meskipun bursa saham regional Asia lainnya cenderung melemah. Indeks Nikkei misalnya, turun 0,25 persen, Shanghai turun 0,10 persen, dan Kuala Lumpur turun 0,66 persen. Hanya indeks Straits Times yang menunjukan penguatan sebesar 0,31 persen. Hal ini menunjukkan ketahanan IHSG di tengah kondisi pasar regional yang kurang menguntungkan.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus atau Nico, menjelaskan bahwa pulihnya kepercayaan pasar ditopang oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang memastikan tetap berada di kabinet. Selain itu, aturan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperbolehkan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) selama enam bulan juga memberikan sentimen positif bagi pasar.
Analisis Sentimen Pasar dan Pengaruhnya terhadap IHSG
Nico menambahkan bahwa kedua sentimen positif tersebut berhasil meredakan kecemasan pasar akibat tekanan jual. Kebijakan buyback saham dinilai akan memberikan stabilitas harga dan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap emiten yang memiliki fundamental dan tata kelola perusahaan yang baik. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi emiten dalam menghadapi tekanan harga saham.
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen juga memberikan dampak positif. Keputusan ini diambil setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18 dan 19 Maret 2025. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap memperhatikan keputusan suku bunga The Fed dan prospek ekonomi China.
Pelaku pasar internasional juga terus memantau perkembangan ekonomi China, terutama setelah peluncuran rencana aksi khusus untuk meningkatkan belanja konsumen dan menstabilkan pasar saham. Kondisi ekonomi China memiliki dampak signifikan terhadap pasar saham global, termasuk IHSG.
Pergerakan IHSG Sepanjang Hari Perdagangan
IHSG dibuka dengan sedikit pelemahan, namun kemudian berhasil berbalik arah dan bergerak ke teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Sepuluh sektor mengalami penguatan, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 9,77 persen, diikuti sektor energi dan barang baku yang masing-masing naik 1,97 persen.
Hanya sektor transportasi & logistik yang mengalami pelemahan sebesar 0,25 persen. Saham-saham seperti WAPO, LION, BESS, IFII, dan NAIK menunjukan penguatan terbesar, sementara FMII, IKAI, BISI, GPSO, dan SSTM mengalami pelemahan terbesar. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.084.000 kali transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp13,94 triliun.
Dari total saham yang diperdagangkan, 368 saham naik, 225 saham turun, dan 364 saham stagnan.
Kesimpulan
Penguatan IHSG di tengah pelemahan bursa Asia menunjukkan resiliensi pasar saham Indonesia. Pernyataan pemerintah, regulasi baru, dan keputusan BI turut berkontribusi pada peningkatan kepercayaan investor. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap memonitor perkembangan ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat dan China.