Indonesia Harus Bermain Cantik Hadapi Kebijakan Tarif AS, Kata Akademikus
Seorang akademikus menyarankan Indonesia untuk menerapkan strategi diplomasi yang cermat dalam menghadapi kebijakan tarif baru AS, dengan fokus pada diversifikasi pasar dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Purwokerto, 5 April 2024 - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengumumkan kebijakan tarif baru yang akan berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia. Menanggapi hal ini, Dr. Muhammad Yamin, seorang akademikus dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, menyarankan Indonesia untuk menerapkan strategi diplomasi yang cermat, yang ia sebut sebagai 'bermain cantik'. Kebijakan ini meliputi tarif dasar 10 persen untuk semua negara, dan tarif tambahan 'timbal balik' untuk beberapa negara, di antaranya Indonesia sebesar 32 persen.
Menurut Dr. Yamin, Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap AS tidak sebesar terhadap negara lain seperti China. Meskipun AS merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dan Indonesia masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional, investasi AS di Indonesia tidak mendominasi dibandingkan Singapura, Jepang, dan China. Lebih lanjut, produk-produk ekspor Indonesia ke AS seperti kopi, cengkih, dan tembakau, tidak terlalu dominan di pasar internasional.
Ia menekankan pentingnya Indonesia untuk memanfaatkan situasi ini sebagai peluang untuk mengurangi ketergantungan pada investasi asing yang menggunakan dolar AS dan mencari pasar baru. Amerika Latin, misalnya, disebut memiliki potensi pasar yang besar bagi produk-produk Indonesia.
Strategi Diplomasi Indonesia
Dr. Yamin menyarankan agar Indonesia tetap melakukan negosiasi dengan AS, tetapi tidak sampai merendahkan martabat bangsa. Ia mengingatkan pentingnya menghindari jebakan psywar AS dan mencari alternatif pasar ekspor. Indonesia, katanya, memiliki keunggulan berupa politik luar negeri bebas aktif yang memungkinkan fleksibilitas dalam menjalin kerja sama dengan berbagai negara tanpa terikat pada satu negara tertentu. Hal ini berbeda dengan beberapa negara yang terikat pada satu negara superpower tertentu.
Ia juga menyarankan agar Indonesia memperkuat kerja sama bilateral dan mengurangi penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang AS. Dengan demikian, devisa Indonesia tidak akan terlalu terpaku pada satu mata uang saja dan Indonesia dapat lebih leluasa dalam bernegosiasi.
Lebih lanjut, Dr. Yamin menekankan pentingnya strategi diversifikasi pasar. Dengan tidak terlalu bergantung pada satu pasar utama, Indonesia dapat mengurangi risiko dampak negatif dari kebijakan ekonomi negara lain. Hal ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang memungkinkan kerja sama dengan berbagai negara tanpa terikat pada satu negara tertentu.
Peluang di Tengah Tantangan
Meskipun kebijakan tarif AS menimbulkan tantangan, Dr. Yamin melihatnya juga sebagai peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi nasional. Dengan mencari pasar alternatif dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS, Indonesia dapat memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi internasionalnya. Hal ini membutuhkan strategi yang cermat dan terukur, serta kerja sama yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta.
Indonesia, dengan keunggulan sumber daya alam dan potensi pasar yang besar, memiliki posisi yang strategis dalam perekonomian global. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, menghadapi kebijakan tarif AS, Indonesia perlu menerapkan strategi yang tepat, yaitu dengan 'bermain cantik' dalam diplomasi internasional, diversifikasi pasar, dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Hal ini akan memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi Indonesia di kancah internasional.