Kardinal Suharyo Kenang Semangat Pengabdian Mgr. Petrus Turang
Kardinal Ignatius Suharyo mengenang Mgr. Petrus Turang, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang, sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam melayani gereja dan masyarakat Indonesia.

Mgr. Petrus Turang, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang, meninggal dunia di Jakarta pada Jumat, 4 April 2024 pukul 06.02 WIB. Kardinal Ignatius Suharyo, mengenang almarhum sebagai sosok yang penuh semangat pengabdian bagi gereja dan masyarakat Indonesia. Mgr. Turang, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dikenal karena dedikasinya dalam pemberdayaan masyarakat. Kabar duka ini disampaikan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang, Romo Krispinus Saku.
Kardinal Suharyo, yang telah mengenal Mgr. Turang sejak tahun 1977, menceritakan bagaimana almarhum mengabdikan sebagian hidupnya untuk pengembangan masyarakat, khususnya selama masa studinya di Roma. "Saya kenal Bapak Uskup Turang ini sejak tahun 1977. Waktu itu kami belajar bersama-sama, beliau belajar ilmu sosiologi di Roma dan pulang, sebagian hidupnya diabdikan untuk mengembangkan masyarakat," ujar Kardinal Suharyo.
Semangat pemberdayaan masyarakat menjadi tema utama dalam pengabdian Mgr. Turang. Baik selama menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif KWI, maupun setelah ditahbiskan sebagai uskup pada tahun 1997, beliau konsisten dalam upayanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Dalam konferensi para uskup pun, beliau selalu membawa semangat yang sama, pemberdayaan, pemberdayaan, dan pemberdayaan," kenang Kardinal Suharyo.
Semangat "Berkeliling Sambil Berbuat Baik"
Mgr. Turang dikenal dengan semboyan hidupnya yang terinspirasi dari ajaran Yesus, yaitu "berkeliling sambil berbuat baik". Semangat ini menjadi landasan pengabdiannya hingga akhir hayat. Kardinal Suharyo menceritakan kunjungan terakhirnya kepada Mgr. Turang beberapa minggu sebelum wafatnya. "Saat saya mengunjungi beliau terakhir, beberapa minggu yang lalu, dalam keadaan setengah sadar pun beliau masih membicarakan tugas-tugas pelayanan, keadaan masyarakat, dan kemiskinan yang masih menjadi tantangan besar," ungkap Kardinal Suharyo.
Dedikasi Mgr. Turang tidak hanya tertuju pada gereja, tetapi juga pada seluruh masyarakat Indonesia. Beliau senantiasa berupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakat, mencerminkan dedikasinya sebagai imam, uskup, dan warga negara Indonesia. Semangatnya untuk selalu membantu sesama menjadi teladan bagi banyak orang.
Kesetiaan Mgr. Turang dalam menjalankan tugas pelayanannya patut diacungi jempol. Bahkan hingga akhir hayatnya, beliau masih memikirkan kesejahteraan masyarakat dan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa. Hal ini menunjukkan betapa besarnya cinta dan dedikasinya kepada Indonesia.
Meninggal Dunia dan Prosesi Pemakaman
Keuskupan Agung Kupang mengumumkan meninggalnya Mgr. Petrus Turang melalui pernyataan resmi. Jenazah almarhum disemayamkan sementara di Katedral Jakarta sebelum diterbangkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 5 April 2024. Jenazah tiba di Bandara El Tari Kupang sekitar pukul 10.00 WIB.
Setelah disemayamkan di Gereja Kristus Raja Katedral Kupang, Mgr. Turang dimakamkan pada Selasa, 8 April 2024. Proses pemakaman tersebut dihadiri oleh keluarga, kerabat, umat, dan tokoh-tokoh penting dari berbagai kalangan yang turut berduka cita atas kepergian Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang tersebut.
Kepergian Mgr. Petrus Turang merupakan kehilangan besar bagi Gereja Katolik Indonesia dan masyarakat luas. Namun, semangat pengabdian dan dedikasinya akan selalu dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.