PGI: Mgr. Petrus Turang, Gembala Sejati Umat NTT
Pendeta Merry Kolimon dari PGI mengenang Mgr. Petrus Turang sebagai sosok gembala bagi seluruh umat di NTT, bukan hanya umat Katolik, dan menceritakan sejumlah kenangan indah bersama mendiang Uskup.

Kupang, 5 April 2024 - Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Merry Kolimon, menyampaikan penghormatan mendalam kepada Mgr. Petrus Turang, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang. Ia menilai mendiang bukan hanya sebagai gembala bagi umat Katolik, tetapi juga bagi seluruh gereja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hubungan baik Mgr. Turang dengan berbagai kalangan agama di NTT, khususnya Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), telah terjalin selama bertahun-tahun.
Pendeta Merry Kolimon mengungkapkan kekagumannya pada sosok Mgr. Petrus Turang yang selalu hadir dan merayakan berbagai peristiwa penting bersama umat GMIT, salah satunya perayaan 500 tahun Gereja Reformasi pada tahun 2017. Dalam kesempatan tersebut, mereka berdiskusi mengenai pentingnya rekonsiliasi sejarah kedua gereja dan kesaksian bersama sebagai satu Tubuh Kristus di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Hal ini menunjukkan komitmen Mgr. Turang dalam membangun kerukunan antarumat beragama.
Selama delapan tahun menjabat sebagai Ketua Sinode GMIT, Pendeta Merry Kolimon merasakan kedekatan personal yang erat dengan Mgr. Petrus Turang. Ia menganggap mendiang sebagai seorang kawan, gembala, dan juga seperti orang tua sendiri. Bahkan, Mgr. Turang turut bergembira dan memberikan dukungan finansial saat Pendeta Merry Kolimon menerima penghargaan di Eropa pada tahun 2017.
Sosok Mgr. Petrus Turang di Mata Pendeta Merry Kolimon
Pendeta Merry Kolimon menggambarkan Mgr. Petrus Turang sebagai sosok yang hangat dan penuh kasih. Ia selalu menyambut dengan pelukan, bukan hanya jabat tangan, sebagai simbol persaudaraan dalam Tuhan. Lebih dari sekadar gembala bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Turang juga menjadi figur panutan bagi umat beragama lainnya di NTT.
Selain kebaikan hatinya, Pendeta Merry juga mengenang keberanian Mgr. Petrus Turang dalam menyampaikan kebenaran. Ia tidak segan menegur dan mengkritik pejabat pemerintah maupun gereja jika menemukan penyimpangan. Namun, di sisi lain, Mgr. Turang juga dikenal luas karena selalu memberikan apresiasi kepada mereka yang berbuat baik.
Sikap jujur dan lugas Mgr. Turang menjadi ciri khasnya. Ia tak pernah ragu untuk menyampaikan pendapatnya, baik itu berupa kritik maupun pujian, demi kebaikan bersama. Kehilangan Mgr. Turang merupakan duka cita bagi banyak orang, bukan hanya umat Katolik, tetapi juga bagi seluruh masyarakat NTT yang merasakan kebaikan dan kepemimpinannya.
Pengaruh Mgr. Petrus Turang terhadap Kerukunan Antarumat Beragama
Kehadiran Mgr. Petrus Turang dalam berbagai kegiatan keagamaan lintas denominasi menunjukkan komitmennya dalam membangun toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Partisipasinya dalam perayaan 500 tahun Gereja Reformasi bersama GMIT menjadi bukti nyata dari hal tersebut. Ia tidak hanya menjadi pemimpin bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antarumat beragama di NTT.
Sikap terbuka dan ramah Mgr. Turang telah menginspirasi banyak orang untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan. Ia mengajarkan pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman, sebuah nilai yang sangat penting dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Warisan ini akan terus dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kehilangan Mgr. Petrus Turang merupakan kehilangan besar bagi seluruh masyarakat NTT. Namun, warisan kebaikan dan kepemimpinannya akan terus menginspirasi banyak orang untuk membangun masyarakat yang lebih rukun, damai, dan toleran. Ia akan selalu dikenang sebagai gembala sejati bagi seluruh umat di NTT.
Sikap tegas namun bijaksana Mgr. Petrus Turang dalam memberikan kritik dan pujian menjadi contoh teladan bagi para pemimpin lainnya. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik harus dibarengi dengan kejujuran dan keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Nilai-nilai ini patut dijaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Kesimpulan
Kepergian Mgr. Petrus Turang meninggalkan duka yang mendalam, namun warisan kepemimpinan dan kebaikannya akan tetap dikenang. Ia adalah teladan bagi seluruh umat beragama di NTT, menunjukkan pentingnya persatuan, toleransi, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran.