Toleransi di Sulut: Warga Nonmuslim Bantu Bersihkan Masjid Jelang Ramadhan
Menjelang Ramadhan, warga nonmuslim di Sulawesi Utara (Sulut) turut serta dalam gerakan bersih masjid, menjadi bukti nyata toleransi antarumat beragama yang tinggi di daerah tersebut.

Sulawesi Utara (Sulut) kembali menunjukkan keindahan toleransi antarumat beragama. Jelang bulan suci Ramadhan, warga nonmuslim di provinsi ini turut berpartisipasi aktif dalam gerakan bersih-bersih masjid. Kegiatan yang dilakukan ini bukan sekadar membersihkan tempat ibadah, melainkan juga menjadi simbol nyata persatuan dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Sulut. Gotong royong membersihkan masjid ini menjadi bukti kuat harmoni sosial yang terjalin erat di wilayah tersebut.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara (Sulut), KH Abdul Wahab Abdul Ghafur, menjelaskan bahwa kegiatan bersih-bersih masjid menjelang hari-hari besar Islam, termasuk Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, sudah menjadi tradisi umat Muslim di Sulut. Meskipun ada petugas kebersihan rutin, kegiatan gotong royong ini tetap dilakukan sebagai bentuk kebersamaan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Namun, yang lebih istimewa, warga nonmuslim turut serta dalam kegiatan ini, menjadi pemandangan yang membanggakan dan memperkuat nilai-nilai toleransi di Sulut.
KH Abdul Wahab menambahkan, "Gerakan bersih masjid menjelang Ramadhan di Sulut, maksudnya adalah untuk bersih-bersih masjid dalam rangka hari-hari besar agama Islam seperti menghadapi bulan suci Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan hari besar lainnya." Ia menekankan bahwa partisipasi aktif warga nonmuslim dalam kegiatan ini merupakan bukti nyata tingginya toleransi beragama di Sulawesi Utara. Hal ini menjadi contoh yang patut ditiru dan diapresiasi oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Gotong Royong Antarumat Beragama di Sulut
Partisipasi warga nonmuslim dalam membersihkan masjid menjelang Ramadhan bukan hanya sekadar kegiatan membersihkan tempat ibadah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan wujud nyata kerja sama antarumat beragama yang dapat mempererat toleransi dan kerukunan hidup berdampingan. Manfaatnya pun sangat luas, tidak hanya menjaga kerukunan umat beragama, tetapi juga mempersatukan umat dan menanamkan nilai-nilai persatuan Indonesia yang kuat.
Dengan bergotong royong membersihkan masjid, warga nonmuslim turut serta menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif untuk ibadah umat Muslim selama bulan Ramadhan. Lebih dari itu, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran yang berharga bagi siswa non-muslim yang mungkin belum pernah mengenal atau memasuki lingkungan masjid sebelumnya. Mereka dapat belajar tentang budaya dan tradisi keagamaan lain, sekaligus memperkuat rasa saling menghormati dan menghargai.
Kegiatan ini juga menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan agama bukan penghalang untuk membangun persatuan dan kesatuan. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan, asalkan dirawat dan dipelihara dengan baik melalui tindakan nyata seperti partisipasi aktif dalam kegiatan sosial keagamaan seperti ini.
Toleransi sebagai Kekuatan Sulut
Keberadaan warga nonmuslim yang aktif membantu membersihkan masjid menjelang Ramadhan di Sulut menjadi bukti nyata bahwa toleransi beragama di daerah ini sangat tinggi dan terjaga dengan baik. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peran serta seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, tokoh agama, maupun masyarakat sipil, yang senantiasa menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama. Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Sulut.
Keberhasilan Sulut dalam menjaga toleransi antarumat beragama patut menjadi contoh dan inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Dengan saling memahami dan menghargai perbedaan, masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai dan rukun. Toleransi bukan hanya sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga semangat gotong royong dan toleransi antarumat beragama di Sulut dapat terus terjaga dan menjadi contoh bagi seluruh Indonesia. Dengan demikian, Indonesia dapat terus menjadi negara yang aman, damai, dan rukun, di tengah keberagaman suku, agama, dan ras yang ada.
Partisipasi aktif warga nonmuslim dalam kegiatan bersih-bersih masjid ini menunjukkan bahwa toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Sulut bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah realitas yang hidup dan terwujud dalam tindakan nyata. Ini menjadi bukti bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa.
Kesimpulan
Gerakan bersih masjid jelang Ramadhan di Sulut yang melibatkan warga nonmuslim menjadi bukti nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Kegiatan ini memperkuat persatuan dan kesatuan, serta memberikan pembelajaran berharga tentang saling menghargai perbedaan. Semoga semangat ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi seluruh Indonesia.