TPS3R Jaksel Sukses Tekan Volume Sampah: Inovasi Bank Sampah Jadi Kunci
Dua TPS3R di Jakarta Selatan berhasil mengurangi volume sampah berkat program bank sampah dan kolaborasi lintas sektor, menargetkan 100 persen pembentukan bank sampah di setiap RW.

Jakarta Selatan, yang memiliki luas wilayah 153,9 kilometer persegi dan dihuni 2,3 juta penduduk, menghasilkan sekitar 1.900 ton sampah per hari. Namun, berkat inovasi dan kolaborasi, volume sampah berhasil ditekan. Pemerintah Kota Jakarta Selatan, melalui program bank sampah dan dua Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Pejaten Barat dan Jagakarsa, menunjukkan langkah signifikan dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan.
Program bank sampah terbukti efektif mengurangi volume sampah secara signifikan. Hal ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Ali Murtadho, dalam keterangannya di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jumat lalu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat dalam mewujudkan Jakarta Selatan yang bersih, nyaman, dan hijau.
Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya reaktivasi dan penambahan bank sampah. Dari awalnya 355 bank sampah, jumlahnya kini telah meningkat menjadi 529 setelah penambahan 215 unit. Target ke depan adalah mencapai 100 persen pembentukan bank sampah di setiap RW, sehingga pengelolaan sampah di Jakarta Selatan semakin efektif dan efisien.
Peran Strategis TPS3R dan Bank Sampah
Dua TPS3R yang beroperasi di Jakarta Selatan, yaitu di Jalan Siaga Pejaten Barat dan Jalan Joe Jagakarsa, memainkan peran penting dalam mengurangi volume sampah. TPS3R ini menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dalam pengelolaan sampah, sehingga sampah dapat diolah dan didaur ulang, mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Keberadaan TPS3R ini melengkapi upaya pengurangan sampah melalui program bank sampah. Bank sampah berperan sebagai pusat pengumpulan dan pemilahan sampah dari rumah tangga, sehingga sampah dapat dikelola dengan lebih terstruktur dan efisien. Sistem ini mendorong masyarakat untuk memilah sampah sebelum dibuang, sehingga memudahkan proses daur ulang.
Dengan adanya TPS3R dan bank sampah, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat. Hal ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi kreatif melalui pemanfaatan kembali sampah.
Target 100 Persen Bank Sampah di Setiap RW
Pemerintah Kota Jakarta Selatan menargetkan 100 persen pembentukan bank sampah di seluruh Rukun Warga (RW) dalam beberapa bulan ke depan. Saat ini, hanya sembilan RW yang belum memiliki bank sampah. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat akar rumput.
Pencapaian target tersebut diharapkan dapat semakin menekan volume sampah yang dihasilkan. Dengan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan Jakarta Selatan dapat menjadi contoh dalam pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan.
"Hanya tersisa sembilan RW yang belum memiliki bank sampah," ujar Ali Murtadho, menekankan optimismenya untuk mencapai target tersebut. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini.
Konteks Nasional Pengelolaan Sampah
Upaya Jakarta Selatan dalam mengurangi sampah sejalan dengan program pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja meresmikan empat TPS3R baru, sehingga total fasilitas pengolahan sampah berkonsep 3R di DKI Jakarta menjadi 17. Selain itu, juga dilakukan pencanangan pembentukan 870 bank sampah baru dan reaktivasi 852 bank sampah yang tidak aktif.
Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 8.000 ton per hari. Dari 2.748 RW di Jakarta, sebanyak 1.878 RW telah memiliki bank sampah. Ini menunjukkan bahwa program bank sampah telah berjalan cukup luas di Jakarta dan berkontribusi signifikan dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
Program ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengurangi beban TPA dan mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, diharapkan pengelolaan sampah di Jakarta dapat semakin efektif dan efisien.
Keberhasilan program bank sampah dan TPS3R di Jakarta Selatan menjadi contoh yang baik bagi daerah lain di Indonesia dalam upaya mengurangi volume sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci keberhasilan program ini.