Warga Jakarta Diminta Terapkan Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab
Wagub DKI Jakarta, Rano Karno, mengajak warga Jakarta untuk menerapkan pengelolaan sampah bertanggung jawab guna mengurangi volume sampah di Bantar Gebang dan mendukung pembangunan Jakarta sebagai kota global.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyerukan kepada warga Jakarta untuk menerapkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab guna mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Seruan ini disampaikan pada Jumat lalu di Jakarta. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan Jakarta sebagai kota global, mengingat permasalahan sampah telah lama menjadi tantangan bagi kota ini yang menghasilkan 8.000 ton sampah setiap harinya.
Karno menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang tepat. "Jika Jakarta tidak memilah sampahnya, tentu kapasitas TPST Bantar Gebang suatu saat tidak akan mampu menampungnya," katanya mengingatkan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai komunitas lingkungan dalam mewujudkan pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir. Upaya ini diwujudkan melalui fasilitas pengolahan sampah berbasis konsep reduce, reuse, dan recycle (TPS 3R) serta bank sampah tingkat kelurahan.
Pemprov DKI Jakarta berharap fasilitas-fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai pusat edukasi untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang bersih dan berkelanjutan. Partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari rumah sangat penting untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, sehingga mengurangi beban lingkungan dan memperpanjang usia TPA Bantar Gebang.
Pengelolaan Sampah Terpadu: Solusi untuk Jakarta
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam memilah sampah di rumah. "Tanpa partisipasi masyarakat, permasalahan sampah di Jakarta tidak akan terselesaikan," tegasnya. Pemilahan sampah di rumah tangga merupakan langkah awal yang krusial dalam sistem pengelolaan sampah terpadu. Dengan memilah sampah, memudahkan proses pengolahan dan pemanfaatan kembali sampah yang masih bisa didaur ulang.
Program TPS 3R dan bank sampah yang telah diimplementasikan diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat. TPS 3R memfasilitasi pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah, sementara bank sampah memberikan insentif bagi warga yang aktif memilah dan mengumpulkan sampah daur ulang. Kedua program ini saling melengkapi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi. Harapannya, dengan partisipasi aktif seluruh warga Jakarta, pengelolaan sampah yang lebih baik dapat terwujud, sehingga Jakarta dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Data Sampah Nasional dan Kontribusi Jakarta
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia menghasilkan 33,3 juta ton sampah berdasarkan laporan dari 307 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, Jakarta berkontribusi sebesar 3,17 juta ton. Angka ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Jakarta dalam mengatasi permasalahan sampah.
Data ini menjadi pengingat akan pentingnya upaya kolektif dalam mengatasi permasalahan sampah. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga peran aktif masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan sampah yang terpadu dan partisipasi aktif semua pihak, diharapkan Jakarta dapat mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Ke depannya, perlu adanya peningkatan kapasitas infrastruktur pengelolaan sampah, inovasi teknologi pengolahan sampah, dan program edukasi yang lebih intensif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Hanya dengan kolaborasi dan komitmen bersama, permasalahan sampah di Jakarta dapat diatasi secara efektif dan berkelanjutan.
Dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan partisipasi aktif dalam program bank sampah, warga Jakarta dapat berkontribusi dalam mengurangi beban lingkungan dan menciptakan kota yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Semoga dengan upaya bersama, Jakarta dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.