Wamenkeu: Kebijakan DHE SDA 100% untuk Perkuat Perekonomian Dalam Negeri
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) 100 persen bertujuan memperkuat perputaran ekonomi dalam negeri dan memberikan manfaat optimal bagi negara.

Jakarta, 26 Februari 2025 - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, menegaskan bahwa kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) 100 persen bertujuan untuk memperkuat perputaran ekonomi di dalam negeri. Pernyataan ini disampaikannya sebagai respons terhadap kekhawatiran sejumlah pengusaha terkait potensi risiko kebijakan tersebut. Kebijakan ini diterapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025, yang mewajibkan perusahaan eksportir menyimpan seluruh DHE SDA di sistem keuangan nasional selama 12 bulan.
Suahasil menjelaskan bahwa kebijakan ini didasari oleh melimpahnya produksi hasil tambang di Indonesia, tidak hanya batu bara tetapi juga berbagai mineral lainnya. Dengan menyimpan devisa hasil ekspor di dalam negeri, pemerintah berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatannya untuk pertumbuhan ekonomi domestik. Ia menekankan pentingnya perputaran uang yang lebih kuat di dalam negeri, didukung oleh likuiditas yang berlimpah dari sektor ekspor tambang.
Wamenkeu juga menyinggung sejarah Indonesia dalam mengeksploitasi sumber daya alam, mulai dari hasil hutan, minyak bumi, hingga berbagai jenis tambang. Menurutnya, berbagai komoditas tersebut menghasilkan devisa, dan saat ini, tambang memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu. Oleh karena itu, pemerintah berupaya memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat maksimal bagi negara.
Kebijakan DHE SDA dan Penguatan Ekonomi Domestik
Suahasil menjelaskan lebih lanjut bahwa devisa hasil ekspor SDA dapat digunakan sebagai kolateral atau underlying untuk kegiatan ekonomi selanjutnya, termasuk mendukung eksplorasi dan penambangan berikutnya. Dengan demikian, uang akan terus berputar di dalam negeri. "Ini makna atau intensi dari kebijakan ini. Kalau ada devisa hasil ekspor dan kami minta ada di Indonesia, itu artinya berputar di Indonesia," tuturnya. Ia idealnya menginginkan konversi devisa tersebut ke rupiah, namun mengakui bahwa mempertahankan devisa di dalam negeri, meskipun tidak dikonversi, juga memberikan dampak positif.
Pemerintah memproyeksikan kebijakan DHE SDA 100 persen dapat meningkatkan cadangan devisa hingga 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.279 triliun (berdasarkan kurs tertentu). Angka ini menunjukkan potensi signifikan kebijakan tersebut dalam memperkuat perekonomian nasional. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Meskipun ada kekhawatiran dari pihak pengusaha, pemerintah optimis bahwa kebijakan ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian Indonesia. Pemerintah akan terus memantau implementasi kebijakan ini dan melakukan penyesuaian jika diperlukan untuk memastikan keberhasilannya.
Manfaat dan Potensi Kebijakan DHE SDA
- Meningkatkan cadangan devisa negara.
- Memperkuat perputaran uang di dalam negeri.
- Mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
- Memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal.
- Membuka peluang investasi dan pengembangan sektor ekonomi lainnya.
Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan Indonesia dapat lebih mandiri secara ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada pasar internasional. Pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijak dan berkelanjutan.
Meskipun terdapat tantangan dan kekhawatiran, pemerintah optimis bahwa kebijakan DHE SDA 100 persen akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia di masa mendatang. Keberhasilan kebijakan ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan.