China, Rusia, dan Iran Bahas Krisis Nuklir Iran di Beijing
Tiga negara, China, Rusia, dan Iran, bertemu di Beijing untuk membahas penyelesaian krisis nuklir Iran melalui jalur diplomasi dan negosiasi, menolak penggunaan kekerasan dan sanksi sepihak.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, bersama Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Alexeevich Ryabkov, dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengadakan pertemuan penting di Beijing pada 14 Maret 2024. Pertemuan tersebut berfokus pada penyelesaian krisis nuklir Iran yang tengah memanas. Pertemuan ini bertujuan untuk mencari solusi damai melalui dialog dan negosiasi, menghindari penggunaan kekerasan dan sanksi sepihak yang dinilai hanya akan memperburuk situasi.
Menlu Wang Yi menekankan komitmen China terhadap perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Ia menyebut kesepakatan komprehensif soal nuklir Iran sebagai kunci penyelesaian berbagai isu sensitif di kawasan tersebut. Ia juga menyoroti bahwa penarikan sepihak AS dari perjanjian sebelumnya telah mengganggu proses perdamaian dan membawa situasi ke titik kritis. Oleh karena itu, dialog dan negosiasi menjadi jalan tengah yang harus ditempuh.
Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang dianggap sebagai langkah penting menuju penyelesaian damai. China juga menyerukan penghormatan terhadap komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, serta hak Iran untuk memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai. China menekankan pentingnya mencari solusi yang mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terlibat.
Lima Poin Usulan China
Menlu Wang Yi juga menyampaikan lima poin usulan China untuk menyelesaikan krisis nuklir Iran. Pertama, komitmen pada penyelesaian damai melalui jalur diplomatik dan penolakan terhadap penggunaan kekerasan dan sanksi ilegal. Kedua, keseimbangan antara hak dan tanggung jawab, dengan fokus pada non-proliferasi nuklir dan penggunaan energi nuklir secara damai. Ketiga, penggunaan JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) sebagai dasar untuk konsensus baru, dengan AS diharapkan kembali ke perundingan.
Keempat, dorongan kerja sama melalui dialog dan penolakan intervensi tergesa-gesa dari DK PBB. Kelima, pendekatan bertahap dan timbal balik melalui konsultasi untuk mencapai konsensus. China, sebagai anggota tetap DK PBB dan pihak dalam JCPOA, berkomitmen untuk terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk mendorong perundingan damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menambahkan bahwa China dan Rusia menyambut baik pernyataan Iran bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai. Kedua negara juga mendukung kerja sama Iran dengan IAEA dan menekankan pentingnya menghormati hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai.
Latar Belakang Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT)
Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang mulai berlaku pada 1970 dan diperpanjang tanpa batas waktu pada 1995, menjadi landasan hukum internasional dalam upaya mencegah proliferasi senjata nuklir. NPT mewajibkan negara-negara pemilik senjata nuklir untuk tidak mentransfer senjata nuklir ke negara lain dan negara-negara non-nuklir untuk tidak mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir. Negara-negara non-nuklir juga wajib menerima pengawasan IAEA atas kegiatan nuklir damai mereka.
Saat ini, sembilan negara diakui memiliki senjata nuklir: Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, Pakistan, India, Israel, dan Korea Utara. NPT bertujuan untuk mencegah penyebaran senjata nuklir lebih lanjut dan memastikan penggunaan energi nuklir hanya untuk tujuan damai.
Pertemuan di Beijing menandai upaya penting dalam mencari solusi diplomatik untuk krisis nuklir Iran. Kelima poin usulan China, serta dukungan dari Rusia, menunjukkan komitmen internasional untuk menyelesaikan konflik ini melalui negosiasi dan dialog, bukan melalui konfrontasi atau sanksi sepihak. Jalan menuju perdamaian masih terbuka, dan upaya bersama dari semua pihak terkait sangat penting untuk mencapai stabilitas regional dan internasional.