Festival Dulag di Gedung Pakuan: Gubernur Jabar Ajak Warga Takbiran Bersama, Hindari Keliling
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengadakan Festival Dulag di Gedung Pakuan sebagai alternatif takbiran keliling untuk mencegah kemacetan dan konflik, sekaligus mempererat silaturahmi warga.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyelenggarakan Festival Dulag atau festival bedug di Gedung Pakuan pada Minggu malam, 31 Maret 2018. Acara ini bertujuan mengajak warga Jawa Barat untuk merayakan malam takbiran dengan cara yang lebih tertib dan menghindari takbiran keliling yang sering menimbulkan masalah.
Inisiatif ini muncul sebagai respon atas permasalahan yang kerap terjadi selama takbiran keliling, seperti kemacetan lalu lintas dan potensi konflik antar kelompok. Dedi Mulyadi berharap Festival Dulag dapat menjadi alternatif yang lebih positif dan kondusif.
"Malam takbiran adalah malam kegembiraan. Saya membuka ruang untuk warga bersama-sama, takbiran daripada keliling-keliling di jalan," kata Dedi di Gedung Pakuan. Festival ini juga dimaksudkan untuk membuka Gedung Pakuan bagi masyarakat secara lebih luas, menciptakan interaksi yang lebih informal antara pemerintah dan warga.
Festival Dulag: Suasana Ramah dan Kompetitif
Ribuan warga dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, termasuk dari dinas Pemprov Jabar, hadir memeriahkan Festival Dulag. Sebanyak 70 tim berpartisipasi dalam kompetisi memukul bedug dan takbiran, dinilai oleh juri untuk menentukan yang terbaik.
Suasana semarak dan antusiasme warga terlihat jelas. Acara ini menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya, menandai tradisi baru di masa kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. Dedi sendiri menyebut memukul bedug menjelang Lebaran sebagai tradisi budaya Indonesia yang perlu dilestarikan.
Selain sebagai ajang kompetisi, Festival Dulag juga menjadi wadah silaturahmi dan mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan Dedi Mulyadi untuk menciptakan pemerintahan yang lebih dekat dan responsif terhadap kebutuhan warganya.
Tradisi Budaya dan Perubahan Sosial
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi juga menyinggung pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam menyambut Lebaran. Ia mengaitkan tradisi memukul bedug dengan nilai-nilai kultural Islam, yang pada masa lalu diiringi dengan kegiatan berbagi dan gotong royong tanpa memandang strata sosial.
"Dalam tradisi Islam kultural itu mengenal yang namanya bedug, dan bedug itu pertanda bagi kegiatan-kegiatan spiritualitas yang memasuki hari ganjil. Jadi kalau puasa masuk ke 21 hari, itu biasanya mulai mendulag. Nah ini ditandai dengan upacara saling memberi, orang memotong ayam, memotong kambing, bahkan sapi. Dan strata sosial pada saat itu tidak ada si kaya dan si miskin," jelas Dedi.
Namun, ia menyayangkan kenyataan saat ini di mana kemajuan ekonomi dan pendidikan justru terkadang memicu sikap individualistis dan kurangnya rasa berbagi. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat Jawa Barat untuk kembali pada nilai-nilai luhur dan membangun masyarakat yang lebih beradab dan bermartabat.
"Rata-rata dari banyak orang banyak yang merasa miskin, dia protes manakala tidak kebagian paket bantuan sosial, bantuan sembako, dan bantuan gratis. Maka dengan momentum menyambut 1 Syawal ini adalah momentum menuju perubahan, dan saya ingin menjadikan manusia Jawa Barat yang beradab dan bermartabat," tegasnya.
Kesimpulan
Festival Dulag di Gedung Pakuan bukan hanya sekadar acara hiburan semata, tetapi juga merupakan upaya strategis Gubernur Jawa Barat untuk menciptakan suasana Lebaran yang lebih kondusif dan bermakna. Inisiatif ini sekaligus menjadi contoh bagaimana tradisi budaya dapat diadaptasi untuk menjawab tantangan zaman dan memperkuat nilai-nilai sosial kemasyarakatan.