KIP-PKH di Gowa: Bantuan Pendidikan dan Sosial Bantu Warga Prasejahtera
Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terbukti membantu warga prasejahtera memenuhi kebutuhan dasar dan pendidikan.

Warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, merasakan dampak positif dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Bantuan ini terbukti membantu memenuhi kebutuhan dasar warga prasejahtera, bahkan membantu anak-anak mereka melanjutkan pendidikan. Salah satu penerima manfaat, Sarifudin Dg Gassing, seorang penarik becak motor, berbagi kisahnya tentang bagaimana program ini mengubah hidupnya dan keluarganya.
Sarifudin (54), warga Kelurahan Tombolo, Kecamatan Somba Opu, Gowa, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterimanya. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari jika tanpa bantuan PKH. "Alhamdulillah, ini program yang betul-betul berpihak sama orang miskin seperti kami. Jika tidak ada ini program, saya pasti kesulitan untuk makan," ujarnya.
Penghasilan Sarifudin yang hanya Rp30.000-Rp50.000 per hari sebagai penarik bentor, membuat program PKH dan KIP menjadi sangat berarti bagi keluarganya. Ketiga anaknya pun mendapatkan manfaat dari program KIP, yang membantu meringankan beban biaya pendidikan.
Bantuan KIP untuk Pendidikan Anak
Keberhasilan program KIP terlihat dari kisah Sri Rahayu (21), anak sulung Sarifudin. Mahasiswi semester VI STIKES Yapika ini mengaku seluruh biaya kuliahnya ditanggung penuh berkat bantuan KIP. Ia bahkan menerima uang saku Rp6,6 juta per semester.
Bantuan KIP ini sangat signifikan bagi keluarga Sarifudin. Jumlah bantuan KIP untuk mahasiswa di Kabupaten Gowa adalah Rp4,8 juta per semester, sedangkan di Kota Makassar Rp6,6 juta. Meskipun uang SPP per semester tetap Rp2,5 juta, bantuan ini tetap membantu meringankan beban biaya pendidikan.
Sri Rahayu mengungkapkan rasa syukurnya atas program ini. Ia merasa program KIP telah membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi. "Banyak yang beranggapan bahwa kemiskinan menjadi penghalang pendidikan, tetapi dengan adanya KIP harapan untuk bersekolah tetap ada," katanya.
Dampak PKH bagi Kehidupan Sehari-hari
Selain KIP, Sarifudin juga merasakan manfaat dari program PKH. Sejak tahun 2020, ia menerima bantuan PKH, awalnya dalam bentuk uang yang harus ditukarkan dengan sembako. Namun, beberapa tahun terakhir, bantuan diterima langsung dalam bentuk uang tunai yang masuk ke rekening istrinya.
Bantuan ini digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari, membantu keluarga Sarifudin memenuhi kebutuhan pangan. Hal ini menunjukkan bahwa PKH tidak hanya membantu dalam hal pendidikan, tetapi juga dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga prasejahtera.
Program PKH dan KIP terbukti memberikan dampak positif yang signifikan bagi kehidupan Sarifudin dan keluarganya. Bantuan ini membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar dan pendidikan, membuktikan efektivitas program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga prasejahtera di Kabupaten Gowa dan seluruh Indonesia. Dengan adanya program-program seperti ini, harapan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat semakin besar.