Mahulu Siap Kembangkan Pertanian Organik, Wujudkan Kemandirian Pangan
Pemkab Mahulu berkomitmen mengembangkan pertanian organik untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pada daerah lain, dengan membangun laboratorium pertanian dan bekerja sama dengan Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu.

Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu), Kalimantan Timur, berambisi mewujudkan kemandirian pangan daerahnya. Langkah nyata yang diambil adalah pengembangan pertanian organik secara besar-besaran. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Mahulu terhadap pasokan pangan dari daerah lain, mengingat letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Malaysia bagian timur.
Sekretaris Daerah Kabupaten Mahulu, Stephanus Madang, menyatakan komitmen ini di Ujoh Bilang, Kalimantan Timur, pada Kamis, 27 Februari 2024. "Kami sedang merancang model pertanian berkelanjutan berbasis organik," ujar Madang, "salah satu langkah konkretnya adalah menjalin kerja sama dengan Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu di Kabupaten Malang."
Inisiatif ini bukan hanya sekedar menanam tanaman. Pemkab Mahulu juga mengintegrasikan peternakan sebagai bagian penting dalam sistem pertanian organik ini. Peternakan akan berperan krusial dalam penyediaan pupuk kompos, melengkapi bahan organik lainnya.
Menuju Pertanian Organik Terpadu di Mahulu
Sistem pertanian organik yang direncanakan Pemkab Mahulu dirancang secara terpadu. Kotoran ternak, baik sapi, kambing, maupun ayam, akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Selain itu, daun-daun kering dan kayu lapuk juga akan digunakan. Hal ini akan menciptakan siklus alami yang saling mendukung dalam ekosistem pertanian.
Untuk mendukung percepatan transisi dari pertanian konvensional ke organik, Pemkab Mahulu berencana membangun laboratorium pertanian di Ujoh Bilang. Laboratorium ini akan berfungsi sebagai pusat edukasi dan pendampingan bagi para petani.
Di laboratorium tersebut, petani akan mendapatkan pelatihan teknis secara intensif. Pelatihan meliputi berbagai aspek, mulai dari teknik pengolahan sawah yang tepat hingga pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan lokal. Beberapa bahan lokal yang akan digunakan antara lain sekam padi, serbuk gergaji, cacing, dan bagian-bagian pohon pisang.
"Di laboratorium tersebut, petani akan diberikan pendampingan teknis, mulai dari cara bersawah yang benar hingga pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan lokal," jelas Madang. Langkah ini diambil karena penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah.
Pengembangan Berbasis Kelompok Tani
Sebagai langkah awal, beberapa kelompok tani di Kampung Ujoh Bilang telah mulai mengadopsi sistem pengolahan sawah yang lebih efisien. Model ini akan dikembangkan secara bertahap di wilayah lain di Kabupaten Mahulu. Tujuannya adalah untuk mendukung swasembada pangan daerah.
Pemkab Mahulu berharap dengan adanya program ini, para petani tidak lagi bergantung pada pupuk kimia. Mereka akan memiliki pengetahuan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan mudah diakses. "Inisiatif ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah melalui pengembangan pertanian terpadu berbasis organik. Kami ingin memastikan petani mandiri, terutama dalam pengelolaan sawah lahan basah," tegas Madang.
Dengan adanya laboratorium pertanian dan kerja sama dengan Pusat Kajian Pertanian Organik Terpadu, diharapkan program ini dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Hal ini akan mendorong kemandirian pangan di Kabupaten Mahulu dan meningkatkan kesejahteraan para petani.