Mensos Gus Ipul Targetkan Keluarga Prasejahtera di Solo Segera Graduasi dari Bansos
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menargetkan keluarga prasejahtera di Solo segera lepas dari ketergantungan bansos dan menjadi mandiri melalui program pemberdayaan.

Solo, 23 Maret 2024 (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) RI, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menetapkan target agar keluarga prasejahtera di Indonesia segera terbebas dari ketergantungan program bantuan sosial (bansos) pemerintah. Hal ini disampaikannya saat mengunjungi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Solo, Jawa Tengah, Minggu lalu. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan efektivitas program bansos dan mendorong kemandirian ekonomi keluarga penerima.
Gus Ipul menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan sosial, khususnya bagi keluarga prasejahtera. Ia berharap agar keluarga-keluarga tersebut dapat bertransformasi menjadi keluarga sejahtera yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah. "Saya dan pak Wamensos diberi tugas presiden untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Khususnya bagaimana keluarga sejahtera terus meningkat, bukan menurun tapi meningkat," ujarnya.
Program pemberdayaan menjadi kunci utama dalam pencapaian target tersebut. Dengan pendampingan yang intensif, KPM diharapkan dapat beralih dari penerima bansos menjadi penerima bantuan modal untuk mengembangkan usaha mandiri. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Graduasi Bansos dan Program Pemberdayaan
Mensos Gus Ipul berharap agar KPM tidak terlalu lama menjadi penerima bansos. Ia mendorong agar mereka dapat tergraduasi menjadi keluarga sejahtera yang mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa bantuan pemerintah. Pendampingan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan dapat membantu KPM dalam mengembangkan potensi dan keterampilan yang dimiliki.
Program bansos di Solo sendiri terbilang cukup besar. Data yang disampaikan Mensos menunjukkan bahwa terdapat 39.497 keluarga penerima bantuan sembako dengan nominal Rp200.000 per bulan, dan 19.763 penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dengan total penyaluran Rp54 miliar. Selain itu, terdapat pula bantuan untuk yatim piatu, lansia terlantar, dan iuran BPJS Kesehatan.
Total anggaran bansos di Solo mencapai angka yang signifikan, yaitu Rp153 miliar per tahun, belum termasuk anggaran untuk iuran BPJS Kesehatan sebesar Rp90 miliar yang menjangkau 178.654 jiwa. Angka-angka ini menunjukkan besarnya komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat prasejahtera.
Dengan sumber daya yang ada, Mensos menargetkan agar setiap pendamping dapat menggraduasi minimal sepuluh keluarga prasejahtera menjadi keluarga sejahtera setiap tahunnya. Hal ini membutuhkan kerja sama dan koordinasi yang baik antara Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kota Surakarta.
Integrasi Program dan Komitmen Graduasi
Gus Ipul menegaskan komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan program-program bansos agar lebih terukur dan efektif. Kunjungannya ke Solo merupakan bagian dari upaya untuk mendorong semangat graduasi dan memastikan keberhasilan program pemberdayaan. Ia berharap agar program ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Sehingga mereka menjadi keluarga yang lebih berdaya, mandiri, dan lebih sejahtera. Kami komitmen melakukan integrasi program antara Kemensos, Pemprov, dan Pemkot Surakarta. Insya Allah lebih terukur. Kami berkeliling untuk semangat graduasi," pungkas Gus Ipul.
Keberhasilan program graduasi ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada peran aktif KPM dalam memanfaatkan bantuan yang diberikan dan mengembangkan usaha mandiri. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak keluarga prasejahtera yang dapat terlepas dari ketergantungan bansos dan mencapai kesejahteraan yang lebih baik.