Risiko Penyebaran TB di Penjara 10 Kali Lebih Tinggi, Pemerintah Gencar Lakukan Deteksi Dini
Wawancara dengan Wakil Menteri Kesehatan RI mengungkapkan risiko penularan Tuberkulosis (TB) di penjara sepuluh kali lebih tinggi, mendorong peningkatan upaya deteksi dan pengobatan.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait penyebaran Tuberkulosis (TB) di Indonesia. Dalam kunjungannya ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA Tangerang pada Rabu, 19 Maret 2024, beliau menyatakan bahwa risiko penularan TB di lingkungan penjara mencapai sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan di luar penjara. Pernyataan ini disampaikan saat beliau meninjau kegiatan 'Active Case Finding Tuberculosis' di Lapas tersebut. Hal ini menyoroti urgensi peningkatan upaya pencegahan dan pengobatan TB, khususnya di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Menurut Harbuwono, pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk skrining TB, IVA test, dan pemeriksaan kesehatan umum, tengah dilakukan secara intensif. Langkah ini merupakan upaya untuk memberikan layanan kesehatan yang merata dan mengidentifikasi kasus TB pada kelompok berisiko tinggi, termasuk warga binaan di lembaga pemasyarakatan. "Kami melakukan skrining kesehatan, termasuk skrining TB, IVA test, dan pemeriksaan kesehatan umum," jelasnya. Beliau juga menambahkan bahwa sekitar 80 persen warga binaan telah mengonsumsi obat pencegahan TB, menunjukkan komitmen dalam upaya menekan angka penyebaran penyakit ini.
Provinsi Banten dan Kota Tangerang sendiri termasuk dalam wilayah dengan cakupan pengobatan TB terbaik berdasarkan identifikasi provinsi. Harbuwono berharap program yang diterapkan di Tangerang dapat direplikasi di daerah lain untuk optimalisasi proses identifikasi TB. "Kami berharap program yang diimplementasikan di Tangerang dapat direplikasi di daerah lain untuk proses identifikasi TB yang optimal," tambahnya.
Upaya Pencegahan dan Deteksi Dini TB di Tangerang
Pemerintah Kota Tangerang, melalui Walikota Sachrudin, menyatakan komitmennya untuk terus mengintensifkan program deteksi TB. Berbagai program telah dijalankan, seperti Kader Asmara TBC dan Ransel TBC, untuk memperluas cakupan skrining mandiri. Selain itu, perhatian juga diberikan pada pentingnya sanitasi yang bersih dan gizi yang baik. "Kami terus memberikan pengobatan terbaik bagi pasien TB di Kota Tangerang," tegas Sachrudin.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni, menambahkan bahwa sebanyak 280 warga binaan mengikuti skrining pada Rabu tersebut. Pemerintah Kota Tangerang akan terus memaksimalkan kegiatan 'Active Case Finding' hingga tahun depan, serta mengimplementasikan program Ransel TBC di sekolah-sekolah. Program Ransel TB ini merupakan program tematik untuk pengendalian TB di sekolah, yang berfokus pada edukasi dan skrining TB.
Untuk memastikan akurasi hasil skrining, pemerintah kota akan melakukan skrining dua kali seminggu menggunakan mobile X-ray dan rapid test molekuler. Setiap kasus positif TB akan mendapatkan pengobatan penuh untuk mengurangi prevalensi penyakit ini. "Kami juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor seperti lingkungan, sosial ekonomi, dan keterlibatan masyarakat dalam mengurangi angka TB," tambah Dini Anggraeni.
Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor
Penanganan masalah TB membutuhkan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga peran serta masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengobatan TB. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan pengobatan TB juga menjadi kunci keberhasilan dalam menekan angka penyebaran penyakit ini. Ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai dan akses yang mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan juga perlu diperhatikan.
Kesimpulannya, upaya pemerintah dalam menangani penyebaran TB di Indonesia, khususnya di lingkungan penjara, patut diapresiasi. Namun, diperlukan upaya berkelanjutan dan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak untuk mencapai target eliminasi TB di Indonesia. Peningkatan kesadaran masyarakat, akses layanan kesehatan yang lebih baik, dan deteksi dini yang efektif merupakan kunci keberhasilan dalam memerangi penyakit ini.