Umat Hindu HST Sambut Nyepi dengan Sembahyang Tilem, Suasana Khidmat di Pura Agung Datu Magintir
Umat Hindu di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, melaksanakan persembahyangan Tilem sebagai rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1947, dengan tema 'Manavaseva Madavasewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045'.

Umat Hindu di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, khusyuk melaksanakan persembahyangan Tilem di Pura Agung Datu Magintir, Desa Labuhan, sebagai persiapan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Persembahyangan ini menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk menyucikan diri dan merenungkan diri sebelum memasuki hari raya Nyepi. Kegiatan spiritual ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna, menandai dimulainya rangkaian perayaan Nyepi yang sarat dengan nilai-nilai spiritual.
Pelaksana Tugas Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) HST, Susi Kasmina, menjelaskan bahwa persembahyangan Tilem merupakan tradisi penting dalam menyambut Nyepi. Tema yang diangkat tahun ini adalah 'Manavaseva Madavasewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045', yang menekankan pentingnya pelayanan kepada sesama sebagai kontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Hal ini menunjukkan komitmen umat Hindu dalam berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
Suasana persembahyangan di Pura Agung Datu Magintir begitu khidmat. Kehadiran Dandim 1002/HST dan Kapolres HST turut memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat Hindu yang menjalankan ibadah. Kerjasama antara pihak keamanan dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama perayaan Nyepi menjadi contoh nyata toleransi dan kebersamaan di HST.
Rangkaian Perayaan Nyepi dan Makna Catur Brata Penyepian
Hari Raya Nyepi dirayakan dengan menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, dimulai Sabtu pagi pukul 06.00 WITA hingga Minggu pagi pukul 06.00 WITA. Catur Brata Penyepian terdiri dari empat pantangan utama, yaitu Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Keempat pantangan ini memiliki makna mendalam bagi spiritualitas umat Hindu.
Amati Karya, pantangan untuk bekerja atau melakukan aktivitas apapun di luar rumah, memberikan kesempatan bagi umat Hindu untuk melakukan perenungan dan introspeksi diri. Momen ini digunakan untuk merenungkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat dan memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, Nyepi menjadi waktu untuk membersihkan diri secara spiritual.
Amati Geni, pantangan untuk menyalakan api atau lampu, memiliki makna untuk mematikan api negatif dalam diri manusia, seperti amarah, iri hati, dan pikiran-pikiran buruk lainnya. Dengan memadamkan api tersebut, umat Hindu berharap dapat mencapai kedamaian batin dan kesucian jiwa.
Amati Lelungan, pantangan untuk bepergian, mengajak umat Hindu untuk merenung dan menjauhi hiruk pikuk dunia luar. Dengan berdiam diri di rumah, mereka dapat lebih fokus pada introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Terakhir, Amati Lelanguan, pantangan untuk bersenang-senang atau berpesta, mengajarkan umat Hindu untuk menahan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan menjauhi hiburan, mereka dapat lebih fokus pada spiritualitas dan mencapai kedamaian batin.
Setelah Nyepi: Tradisi Bermaaf-Maafan dan Silaturahmi
Setelah menjalani Catur Brata Penyepian, umat Hindu melanjutkan perayaan dengan persembahyangan bersama di Pura Agung Datu Magintir. Acara ini dilanjutkan dengan tradisi bermaaf-maafan dan bersilaturahmi ke rumah-rumah warga atau keluarga. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun hubungan yang lebih harmonis.
Perayaan Nyepi di HST tahun ini berjalan dengan lancar dan khidmat. Kerjasama yang baik antara umat Hindu, pemerintah daerah, dan pihak keamanan menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan perayaan tersebut. Semoga perayaan Nyepi ini membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat Hindu di HST dan Indonesia.