Teknologi AI: Bukan untuk Kuasai Kehidupan Anak, Tegaskan Kemkominfo
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menegaskan teknologi AI tidak dirancang untuk menguasai kehidupan anak, melainkan sebagai pendukung tumbuh kembang, dan perlu pendampingan orangtua.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memberikan penegasan penting terkait peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan anak-anak Indonesia. Dalam acara Refleksi Safer Internet Day 2025 di Jakarta, Kamis (27/2), Direktur Strategi dan Kebijakan Pengawasan Ruang Digital Kemkominfo, Muchtarul Huda, menyampaikan bahwa AI tidak dirancang untuk mengontrol atau menguasai kehidupan anak. Pernyataan ini muncul sebagai respon terhadap potensi pelanggaran data pribadi anak yang ditemukan dalam beberapa kasus penggunaan AI.
Huda menekankan pentingnya interaksi langsung anak dengan keluarga, guru, dan teman sebaya sebagai bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan mereka. Teknologi AI, menurutnya, semestinya hanya berperan sebagai alat pendukung, bukan pengganti interaksi manusia yang krusial ini. "Perlu kita tegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk mengontrol dan menguasai kehidupan anak, terlebih menggantikan human interaction anak bersama keluarga, guru, dan teman-teman yang seharusnya dibutuhkan untuk melengkapi proses tumbuh kembang anak," tegas Huda.
Oleh karena itu, Kemkominfo mendorong peran aktif orang tua dan pendidik dalam membimbing anak dalam penggunaan teknologi AI. Pemahaman yang tepat tentang batasan dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab menjadi kunci agar teknologi ini dapat mendukung masa depan anak-anak dengan lebih baik. Bimbingan yang tepat akan memastikan anak-anak menggunakan AI secara bijak dan produktif, bukan sebagai alat yang menguasai kehidupan mereka.
Pentingnya Bimbingan Orangtua dalam Penggunaan AI
Kemkominfo menyadari potensi ancaman teknologi AI terhadap perkembangan anak, seperti yang diungkapkan dalam penelitian Universitas Harvard. Huda menjelaskan bahwa kemampuan AI dalam menjalankan tugasnya berpotensi melanggar hak-hak anak. Kontrol algoritma di media sosial, misalnya, dapat memengaruhi jenis konten yang diakses anak, sehingga perlu adanya pengawasan dan panduan yang tepat.
Lebih lanjut, Huda menambahkan bahwa "Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa kemampuan AI dalam menjalankan tugasnya, selalu beririsan dengan beberapa topik yang berpotensi melanggar hak-hak anak-anak." Hal ini menyoroti perlunya edukasi dan literasi digital bagi anak-anak dan orang tua untuk memahami risiko dan manfaat teknologi AI.
Kemkominfo juga menekankan pentingnya pendampingan orangtua dalam mengawasi penggunaan AI oleh anak. Bukan hanya sekedar membatasi akses, tetapi juga memberikan pemahaman tentang cara menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab dan aman. Dengan begitu, anak-anak dapat memanfaatkan AI sebagai alat yang bermanfaat tanpa terjebak dalam potensi bahaya yang mengintai.
Salah satu upaya Kemkominfo dalam melindungi anak di ruang digital dan memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab adalah dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang etika penggunaan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. SE ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi semua pihak dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi AI secara etis dan bertanggung jawab, khususnya dalam konteks perlindungan anak.
Peran Pemerintah dalam Mitigasi Risiko AI
Pemerintah melalui Kemkominfo menyadari pentingnya peran aktif dalam melindungi anak-anak dari potensi bahaya teknologi AI. Selain menerbitkan SE, Kemkominfo juga berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab. Kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan perusahaan teknologi, menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
Dengan demikian, teknologi AI tidak perlu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Namun, hal ini hanya dapat terwujud dengan adanya bimbingan dan pengawasan yang tepat dari orang tua dan pemerintah. Dengan demikian, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal di era digital yang penuh tantangan ini.
Penting untuk diingat bahwa teknologi AI bukanlah pengganti interaksi manusia yang esensial dalam perkembangan anak. Peran orang tua, guru, dan teman sebaya tetap tak tergantikan dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. AI hanya sebagai alat bantu yang perlu digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Ke depan, Kemkominfo akan terus berupaya untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan ramah anak, dengan terus melakukan inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi AI. Hal ini merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal di era digital.