Blending Bahan Bakar: Kunci Kualitas Mesin Kendaraan, Kata Praktisi Migas
Praktisi migas Inas Nasrullah Zubir menjelaskan pentingnya proses blending bahan bakar untuk menghasilkan kualitas dan performa mesin kendaraan yang optimal, serta menjelaskan proses produksi bensin.
Proses blending bahan bakar minyak (BBM) memegang peranan krusial dalam menjamin kualitas dan kinerja mesin kendaraan. Hal ini diungkapkan oleh praktisi migas, Inas Nasrullah Zubir, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (1/3). Inas menjelaskan secara detail bagaimana proses ini memastikan BBM seperti Pertalite dan Pertamax memenuhi standar dan kebutuhan konsumen Indonesia.
Menurut Inas, baik Pertalite maupun Pertamax merupakan hasil dari proses blending di kilang minyak Pertamina. Proses ini memastikan bensin yang dihasilkan mampu mendukung kinerja mesin kendaraan secara optimal. Ia menekankan pentingnya pemahaman publik terhadap proses ini untuk menghargai kualitas BBM yang dikonsumsi.
Penjelasan Inas memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana kualitas bensin ditentukan dan bagaimana proses blending berperan dalam mencapai standar tersebut. Penjelasannya juga menyoroti pentingnya peran teknologi dan keahlian dalam industri migas Indonesia.
Proses Blending dan Kualitas Bensin
Inas menjelaskan bahwa mutu bensin, atau gasoline, ditentukan oleh Research Octane Number (RON). RON mengukur kemampuan bahan bakar untuk menahan knocking atau efek ngelitik yang dapat mengganggu kinerja mesin. Di pasar internasional, terdapat berbagai jenis gasoline dengan RON berbeda, seperti RON 92, RON 95, RON 98, dan RON 100. Namun, RON 90 hanya diproduksi di Jepang dan Indonesia untuk pasar domestik.
Harga indeks pasar gasoline di Indonesia, menurut Inas, ditentukan berdasarkan Keputusan Menteri ESDM (Kepmen ESDM), yaitu 99,21 persen dari publikasi harga gasoline RON 92. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan harga juga mempertimbangkan standar kualitas internasional.
Proses blending itu sendiri melibatkan pencampuran naphta dan High Octane Motor Component (HOMC). Naphta, hasil destilasi minyak bumi, memiliki RON antara 60 hingga 80. Oleh karena itu, dibutuhkan HOMC untuk meningkatkan nilai oktan agar sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, misalnya RON 92 atau RON 95.
Untuk menghasilkan gasoline RON 92, naphta di-blending dengan HOMC 92, dan begitu pula seterusnya untuk RON 95 dan lainnya. Proses ini memastikan konsistensi kualitas BBM yang dipasarkan.
Produksi High Octane Motor Component (HOMC)
Inas juga menjelaskan bahwa produksi HOMC merupakan proses yang kompleks. Proses pengolahan minyak bumi di kilang dimulai dengan destilasi untuk memisahkan komponen berdasarkan titik didihnya, menghasilkan fraksi-fraksi seperti naphta, kerosen, solar, dan fuel oil.
Pembuatan HOMC melibatkan beberapa proses penting, yaitu reformasi katalitik, isomerasi, dan cracking. Proses-proses ini membutuhkan teknologi canggih dan keahlian khusus untuk menghasilkan HOMC dengan kualitas yang terjamin.
Dengan demikian, kualitas bensin yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas HOMC dan proses blending yang tepat. Proses ini memastikan bahwa BBM yang sampai ke konsumen memenuhi standar kualitas dan memberikan performa optimal bagi mesin kendaraan.
Kesimpulannya, proses blending merupakan tahapan penting dalam menghasilkan BBM berkualitas tinggi. Proses ini melibatkan berbagai tahapan kompleks dan teknologi canggih untuk menjamin kualitas dan performa mesin kendaraan. Pemahaman publik terhadap proses ini penting untuk menghargai kualitas BBM yang dikonsumsi dan mendukung industri migas nasional.