Jerman Gantikan AS Sebagai Pemimpin Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP) untuk Indonesia
Utusan khusus Presiden RI untuk perubahan iklim dan energi, Hashim Djojohadikusumo, mengonfirmasi Jerman menggantikan AS sebagai pemimpin Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP) untuk mendukung transisi energi Indonesia.

Jakarta, 27 Februari 2025 - Dalam perkembangan terbaru yang signifikan bagi upaya transisi energi Indonesia, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, telah mengonfirmasi pergantian kepemimpinan dalam Kemitraan Transisi Energi yang Adil (JETP). Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya memegang peran utama, kini digantikan oleh Jerman. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Djojohadikusumo pada hari Kamis lalu.
Keputusan ini diambil menyusul penarikan resmi AS dari Perjanjian Iklim Paris di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Penarikan tersebut menimbulkan kekhawatiran di Indonesia, mengingat komitmen sebelumnya dari US International Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan pendanaan sebesar US$1 miliar guna mempercepat inisiatif energi bersih di Indonesia. Dengan beralihnya kepemimpinan JETP ke Jerman, Indonesia berharap dapat melanjutkan momentum pembangunan energi terbarukan.
Peran Jerman dalam JETP bukan tanpa alasan. Sejak diluncurkan di KTT G20 Bali 2022, Jerman telah menjadi pendukung setia transisi energi Indonesia. Komitmen ini diperkuat dengan portofolio proyek bilateral terbesar dalam kerja sama pembangunan yang didedikasikan untuk upaya transisi energi Indonesia. Dengan mengambil alih peran utama, Jerman siap membantu mendorong fase implementasi JETP selanjutnya.
Jerman Perkuat Komitmen dalam Transisi Energi Indonesia
Keterlibatan Jerman dalam JETP ditandai dengan pengambilalihan kepemimpinan bersama Kelompok Mitra Internasional (IPG) sejak awal 2025. Hal ini diumumkan langsung oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. IPG, yang terdiri dari negara-negara G7, Uni Eropa, Denmark, dan Norwegia, bersama dengan Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), telah berkomitmen untuk memobilisasi US$20 miliar guna mendukung tujuan JETP Indonesia.
Komitmen pendanaan tersebut bertujuan untuk membatasi emisi, mempercepat pengembangan energi terbarukan secara signifikan, dan mencapai emisi nol bersih di sektor ketenagalistrikan pada tahun 2050. Untuk memperkuat komitmen ini, delegasi tingkat tinggi dari Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Federal Jerman (BMZ), yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Christine Toetzke, melakukan kunjungan ke Jakarta pada tanggal 17-21 Februari 2025.
Selama kunjungan tersebut, delegasi Jerman melakukan serangkaian pertemuan dengan pemerintah Indonesia, Jepang (pemimpin bersama JETP), IPG, Sekretariat JETP, dan komunitas JETP yang lebih luas. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk meninjau kemajuan yang telah dicapai dan mengidentifikasi langkah-langkah kunci untuk mempercepat implementasi JETP.
Peran JETP dalam Reformasi Kebijakan Domestik Indonesia
Indonesia membutuhkan JETP untuk memobilisasi investasi dalam produksi energi terbarukan domestik. Hal ini penting untuk mengurangi emisi, memperkuat dan memperluas jaringan listrik, meningkatkan keamanan energi, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan ekonomi energi bersih di Indonesia. JETP akan berjalan beriringan dengan reformasi kebijakan domestik yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Dengan dukungan Jerman sebagai pemimpin baru, Indonesia berharap dapat mencapai target emisi nol bersih di sektor ketenagalistrikan pada tahun 2050. Kerja sama ini menunjukkan komitmen internasional yang kuat dalam mendukung upaya Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim dan membangun masa depan energi yang berkelanjutan.
Pertemuan dengan delegasi pemerintah Jerman minggu lalu menegaskan komitmen mereka untuk menggantikan AS sebagai pemimpin dalam JETP. Hal ini menunjukkan kepercayaan internasional terhadap komitmen dan upaya Indonesia dalam transisi energi.
Kesimpulan
Pergantian kepemimpinan JETP dari AS ke Jerman menandai babak baru dalam upaya transisi energi Indonesia. Dengan dukungan pendanaan dan keahlian dari Jerman, Indonesia optimis dapat mencapai target emisi nol bersih dan mengembangkan ekonomi energi bersih yang berkelanjutan.