Kerusakan Hutan di Pulau Sumbawa Mempercepat Erosi dan Bencana Alam
BPBD NTB melaporkan kerusakan hutan di Pulau Sumbawa menyebabkan erosi lahan, bencana alam, dan kerugian ekonomi; solusi alternatif seperti penanaman sengon ditawarkan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan kerusakan hutan di Pulau Sumbawa telah mempercepat laju erosi lahan dan memicu berbagai bencana alam. Hal ini berdampak signifikan terhadap infrastruktur, properti masyarakat, dan lahan pertanian. Kepala BPBD NTB, Ahmadi, menjelaskan dampak kerusakan hutan tersebut dalam pernyataan di Mataram, Jumat (4/4).
Ahmadi memaparkan, vegetasi hutan di kawasan dengan topografi terjal di Pulau Sumbawa telah habis akibat praktik berladang jagung yang masif. Aktivitas ini dilakukan mulai dari lahan datar di tepi laut hingga puncak perbukitan karst. Akibatnya, ketika musim hujan tiba, akar serabut pohon jagung tidak mampu menahan dan menyimpan air hujan yang berlimpah. Kondisi ini membuat bukit rentan terhadap longsor, sementara sungai-sungai meluap dan merendam banyak pemukiman penduduk. "Itu juga yang memicu kerusakan infrastruktur termasuk properti masyarakat dan sawah-sawah," ujar Ahmadi.
Penanganan masalah ini, menurut Ahmadi, membutuhkan pendekatan ekonomi yang menawarkan solusi alternatif. "Penanganan kerusakan lahan dengan memberikan alternatif solusi pendekatan ekonomi..., sehingga harus ada komoditi yang setara dengan nilai ekonomi jagung," jelasnya. Ia menekankan perlunya solusi yang mampu memberikan daya tarik ekonomi bagi masyarakat agar beralih dari praktik pertanian yang merusak lingkungan.
Solusi Alternatif: Tanaman Sengon
Sebagai solusi alternatif, Ahmadi menyoroti potensi tanaman sengon (Albizia chinensis). Pohon ini dinilai mampu melindungi lereng, memperbaiki kondisi tanah dengan mengikat nitrogen, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sengon dapat dipanen setelah empat tahun dan dapat ditanam tumpang sari dengan jagung. Satu hektare lahan dapat menampung hingga 400 pohon sengon.
Ahmadi menambahkan, "Satu batang sengon yang besar nilainya Rp1 juta. Satu hektare bisa tanam 400 pohon sengon yang artinya saat panen bisa Rp400 juta." Ia mengakui tantangan dalam mengubah praktik pertanian masyarakat, namun menekankan pentingnya memberikan alternatif solusi yang menarik secara ekonomi. "Kita tidak bisa terlalu melarang orang, kalau sudah ekonomi orang menjadi militansi. Hal terpenting kita memberikan alternatif solusi," pungkasnya.
Dampak Kerusakan Hutan: Bencana Hidrometeorologi
Berdasarkan laporan sebelumnya, musim hujan pada periode Desember 2024 hingga Februari 2025 di Pulau Sumbawa diwarnai oleh bencana alam berupa longsor dan banjir bandang. Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan signifikan pada jembatan, jalan, sekolah, sawah, dan rumah-rumah penduduk. Sejak tahun 2012, Pulau Sumbawa terus mengalami bencana hidrometeorologi, terutama selama musim hujan. Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan banjir dan longsor, tetapi juga kekeringan ekstrem saat musim kemarau karena minimnya tutupan vegetasi yang mampu menyimpan air dalam jangka waktu lama.
Kerusakan hutan di Pulau Sumbawa menjadi isu serius yang memerlukan penanganan terpadu. Solusi yang ditawarkan oleh BPBD NTB, yaitu dengan memberikan alternatif ekonomi melalui penanaman sengon, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari kerusakan hutan dan mencegah terjadinya bencana alam di masa mendatang. Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan masyarakat untuk menerapkan solusi ini secara efektif dan berkelanjutan.