Lapas Sorong Diinvestigasi Usai Tujuh Napi Kabur: Tembok Jebol Pakai Sendok!
Kemenkumham Papua Barat investigasi Lapas Kelas IIB Sorong setelah tujuh narapidana kabur dengan cara membobol tembok menggunakan sendok makan; indikasi kelalaian petugas ditemukan.

Tujuh narapidana berhasil kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sorong, Papua Barat Daya, pada Sabtu, 1 April 2025 pukul 04.54 WIT. Kejadian ini telah memicu investigasi menyeluruh oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Papua Barat. Para napi, yang kaburnya diduga akibat kelalaian petugas, berhasil meloloskan diri dengan cara membobol tembok lapas menggunakan sendok makan. Salah satu dari tujuh napi tersebut merupakan pelaku penyerangan Pos Ramil Kisor pada tahun 2021.
Kepala Kanwil Ditjen PAS Papua Barat, Hensah, menyatakan bahwa indikasi kelalaian petugas Lapas Sorong sudah pasti ada. "Ya kalau indikasi kelalaian sudah pasti ada," jelasnya di Sorong usai rapat koordinasi dengan Polresta Sorong Kota. Pihaknya berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi secara menyeluruh terhadap seluruh petugas lapas untuk mengungkap penyebab pasti kaburnya tujuh narapidana tersebut. Kerjasama dengan Polresta Sorong Kota juga telah dijalin untuk membantu pengejaran para napi yang melarikan diri.
Hensah menambahkan bahwa investigasi internal akan segera dilakukan untuk kemudian dilanjutkan dengan evaluasi kinerja Lapas Kelas IIB Sorong. Hasil investigasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dan pencegahan kejadian serupa di masa mendatang. "Kalau soal masalah pemeriksaan ini, sudah jelas kita akan laksanakan investigasi. Dari hasil pemeriksaan itu barulah kita bisa menyimpulkan kemudian akan diikuti dengan evaluasi," tegasnya. Selain itu, pihak Kanwil Ditjen PAS Papua Barat juga mengimbau keluarga para napi yang kabur untuk membantu proses pengembalian mereka ke Lapas.
Investigasi Mendalam dan Pencarian Napi
Proses investigasi yang dilakukan oleh Kanwil Ditjen PAS Papua Barat akan mencakup berbagai aspek, termasuk prosedur keamanan, pengawasan petugas, dan kondisi fisik Lapas Sorong. Informasi awal menyebutkan bahwa para napi membobol tembok lapas yang kerap tergenang air, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan aksinya dengan menggunakan sendok makan sebagai alat bantu. Hal ini menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem keamanan yang perlu segera diperbaiki.
Kerjasama dengan pihak kepolisian sangat penting dalam upaya pengejaran para napi yang kabur. Polresta Sorong Kota akan memberikan dukungan penuh dalam operasi pencarian dan penangkapan para buronan tersebut. Kanwil Ditjen PAS Papua Barat berharap agar para napi dapat segera ditangkap dan dikembalikan ke Lapas Sorong untuk menjalani sisa masa hukumannya.
Identitas ketujuh napi yang kabur telah dirilis, yaitu AR, AO, AA, EL, YW, JJ, dan TW. Satu di antara mereka merupakan pelaku penyerangan Pos Ramil Kisor pada 2 September 2021. Kasus ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan adanya celah keamanan yang serius di Lapas Kelas IIB Sorong.
"Saya menyarankan kepada pihak keluarga untuk membantu kami menyerahkan para napi ini ke Lapas Kelas IIB Sorong," ujar Hensah, seraya berharap partisipasi aktif masyarakat dalam membantu proses penangkapan para napi yang melarikan diri.
Kondisi Lapas dan Rekomendasi Perbaikan
Kejadian kaburnya tujuh napi ini menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi Lapas Kelas IIB Sorong. Selain investigasi internal, perlu dilakukan pengecekan terhadap seluruh infrastruktur lapas, termasuk kondisi tembok dan sistem pengawasan. Perbaikan sistem keamanan, pelatihan petugas, dan peningkatan pengawasan menjadi hal krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Lebih lanjut, perlu diteliti penyebab tembok lapas mudah dijebol. Genangan air yang sering terjadi di sekitar tembok mungkin menjadi faktor yang mempermudah para napi untuk melakukan aksi pelarian mereka. Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan sekitar lapas juga perlu menjadi fokus perhatian.
Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dalam pengawasan dan pembinaan narapidana. Dukungan dan kerjasama keluarga sangat penting dalam upaya rehabilitasi dan reintegrasi narapidana ke masyarakat. Partisipasi aktif keluarga diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya pelarian atau tindakan kriminal lainnya oleh narapidana.
Evaluasi kinerja Lapas Kelas IIB Sorong pasca-kejadian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang komprehensif untuk meningkatkan keamanan dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Langkah-langkah yang tegas dan terukur perlu diambil untuk memastikan keamanan dan ketertiban di dalam lapas.
Kesimpulan
Kaburnya tujuh narapidana dari Lapas Kelas IIB Sorong menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan pengelolaan lapas di Papua Barat. Investigasi, kerjasama dengan kepolisian, dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk menangkap para napi yang kabur dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Perbaikan infrastruktur, pelatihan petugas, dan peningkatan pengawasan menjadi kunci utama dalam meningkatkan keamanan Lapas Kelas IIB Sorong.