Mendukbangga Kolaborasi Banser-TPK Atasi Stunting: Sinergi untuk Indonesia Sehat
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berkolaborasi dengan Banser NU dan Tim Pendamping Keluarga untuk menurunkan angka stunting di Indonesia melalui berbagai program unggulan.

Jakarta, 31 Januari 2024 - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) akan menggandeng Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia. Langkah kolaborasi ini diumumkan langsung oleh Menteri PPPA di Jakarta.
Langkah kolaborasi ini didorong oleh potensi besar Banser NU dalam menjangkau masyarakat, khususnya keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Menteri PPPA menyatakan, "Kerja sama dengan TPK sangat memungkinkan. Banser, sebagai sahabat-sahabat saya, dapat mendukung program penurunan stunting. Ini demi kemaslahatan NU dan Indonesia. Kerja sama dengan Banser, Muslimat, dan Fatayat, termasuk Gerakan Keluarga Maslahat NU, sangat terbuka."
Kementerian PPPA juga menyadari kemungkinan adanya keluarga NU yang berisiko stunting. Oleh karena itu, Kementerian PPPA mengajak seluruh anggota dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk berpartisipasi aktif dalam Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Menteri PPPA menjelaskan, "Kita akan cek data keluarga risiko stunting (KRS). Jika ada warga NU yang masuk KRS, akan segera kita intervensi melalui program Genting."
Kolaborasi dengan PBNU ini juga sejalan dengan fokus Kementerian PPPA dalam menjalankan Astacita ke-empat dan ke-enam, yaitu pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengentasan kemiskinan. "Fokusnya di situ, dan kita sudah mulai dengan lima program cepat atau quick wins," tambah Menteri PPPA.
Lima program quick wins Kementerian PPPA untuk tahun 2025 antara lain: pertama, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting; kedua, Taman Asuh Anak melalui penyediaan tempat penitipan anak atau daycare unggulan; ketiga, Gerakan Ayah Teladan (Gate); keempat, aplikasi super berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk konsultasi keluarga; dan kelima, program Lansia Berdaya yang menyediakan layanan berbasis komunitas untuk lansia yang membutuhkan.
PBNU juga turut mendukung upaya ini dengan meluncurkan aplikasi GKMNU. Aplikasi ini menawarkan berbagai fitur layanan keluarga maslahat berbasis teknologi, meliputi enam dimensi: Relasi Maslahat, Keluarga Sejahtera, Keluarga Sehat, Keluarga Terdidik, Keluarga Moderat, dan Keluarga Cinta Alam. Fitur unggulannya adalah konsultasi keluarga berbasis AI, yang memberikan solusi cerdas kapanpun dan dimanapun.
Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan teknologi informasi diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam upaya penurunan angka stunting di Indonesia. Komitmen bersama dan strategi terpadu menjadi kunci keberhasilan program ini.