IHSG Diprediksi Melemah Akibat Tarif Impor AS: Potensi Bearish hingga 3 Persen
Pengamat pasar uang memprediksi pelemahan IHSG hingga 3 persen pada perdagangan pertama pasca libur Lebaran akibat tarif impor baru Amerika Serikat yang berdampak pada Indonesia.

Jakarta, 03 April 2024 (ANTARA) - Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperingatkan potensi penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penerapan tarif impor baru. Ia memproyeksikan penurunan IHSG hingga 2-3 persen pada perdagangan hari Selasa (8/4), hari pertama bursa saham beroperasi setelah libur panjang Idul Fitri 1446 H.
Menurut Ibrahim, "IHSG kemungkinan besar akan mengalami penurunan 2 sampai 3 persen dalam perdagangan di hari Selasa." Pernyataan ini disampaikannya kepada Antara di Jakarta, Kamis (3/4). Pelemahan ini terutama didorong oleh sentimen negatif akibat kebijakan tarif impor AS yang berdampak langsung pada Indonesia.
Dampak perang dagang ini dinilai cukup besar bagi perekonomian Indonesia. "Karena dampak dari perang dagang ini cukup luar biasa, apalagi Indonesia sudah masuk dalam biaya impor dari AS," tegas Ibrahim. Ia menekankan perlunya langkah antisipatif dan responsif dari pemerintah untuk mengurangi dampak negatif kebijakan tersebut.
Strategi Menghadapi Tarif Impor AS
Ibrahim merekomendasikan beberapa strategi untuk menghadapi dampak tarif impor AS. Pertama, pemerintah perlu mengambil langkah tegas dengan menerapkan kebijakan tarif impor serupa terhadap AS. "Indonesia adalah negara anggota BRICS, sehingga anggota BRICS harus dijalankan supaya yang tadinya ekspor Indonesia ke AS mengalami surplus, itu dialihkan," jelasnya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kerugian akibat kebijakan proteksionis AS.
Kedua, pemerintah perlu menggelontorkan stimulus kebijakan fiskal dan moneter. Sebagai contoh, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar valuta asing (valas) domestik. "Ini yang harus dilakukan pemerintah, sehingga walaupun AS melanjutkan perang dagang terhadap Indonesia, Indonesia sudah siap untuk melakukan perlawanan balik," tambah Ibrahim. Langkah ini diharapkan mampu menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengurangi dampak negatif terhadap pasar modal.
Penerapan stimulus fiskal dan moneter yang tepat dan terukur dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mengurangi dampak negatif dari perang dagang. Koordinasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia sangat krusial dalam menghadapi tantangan ini.
Rincian Tarif Impor AS
Presiden AS Donald Trump, pada Rabu (2/4), mengumumkan penerapan tarif impor baru dengan kombinasi tarif universal dan timbal balik terhadap berbagai negara. Tarif dasar sebesar 10 persen akan dikenakan pada semua negara, sementara tarif tambahan 'timbal balik' diberlakukan terhadap sejumlah negara mitra dagang tertentu.
Tarif 'timbal balik' yang diumumkan cukup tinggi, diantaranya: China (34 persen), Eropa (20 persen), Vietnam (46 persen), Taiwan (32 persen), Jepang (24 persen), India (26 persen), Korea Selatan (25 persen), Thailand (36 persen), Swiss (31 persen), Indonesia (32 persen), Malaysia (24 persen), Kamboja (49 persen), Inggris (10 persen), dan Afrika Selatan (30 persen).
Penerapan tarif impor ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang dagang yang lebih luas dan berdampak negatif pada perekonomian global. Indonesia, sebagai salah satu negara yang terkena dampak, perlu mempersiapkan strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan ini dan meminimalisir dampak negatif terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah perlu terus memantau perkembangan situasi dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah diterapkan. Kerjasama internasional juga penting untuk mencari solusi bersama dalam menghadapi dampak negatif dari perang dagang.