Inflasi Komoditas Perkebunan Global: Ancaman dan Peluang bagi Indonesia
Harga komoditas perkebunan global fluktuatif, memberikan dampak ganda bagi Indonesia sebagai eksportir utama; peluang hilirisasi dan adaptasi iklim menjadi kunci.

Jakarta, 28 Maret (ANTARA) - Harga komoditas perkebunan dunia seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, dan teh mengalami fluktuasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan harga pada 2022 akibat pandemi dan konflik geopolitik, meskipun mereda di 2023, tetap jauh di atas level sebelum pandemi. Kondisi ini menimbulkan dampak ganda bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama komoditas tersebut.
Bank Dunia memproyeksikan indeks harga komoditas untuk 2024-2025 hanya akan melemah tipis, namun tetap 38 persen lebih tinggi dari masa pra-Covid-19. Lonjakan harga memang meningkatkan pendapatan ekspor dan menguatkan perekonomian nasional. Namun, volatilitas tinggi berisiko mengganggu stabilitas ekonomi, terutama jika harga tiba-tiba anjlok, dan berdampak pada kesejahteraan petani dan pelaku usaha perkebunan.
Sebagai contoh, minyak kelapa sawit (CPO) mencapai harga tertinggi 1.276 dolar AS per ton pada 2022, lalu turun drastis menjadi 886 dolar AS per ton di 2023. Proyeksi Bank Dunia menunjukkan harga CPO akan sedikit meningkat di 2024, tetapi tetap di atas rata-rata historis. Fluktuasi serupa terjadi pada komoditas lain seperti kakao, kopi, dan karet, dengan berbagai faktor pendorong dan penghambat yang kompleks.
Harga Komoditas dan Faktor-faktor Pengaruhnya
Kenaikan biaya produksi menjadi faktor utama inflasi harga komoditas. Harga pupuk global melonjak tajam pada 2021-2022 akibat gangguan pasokan gas alam dan perang Ukraina. Di Indonesia, petani sawit mengurangi pemupukan, menyebabkan produktivitas stagnan. Kenaikan biaya energi dan upah buruh juga memaksa produsen menaikkan harga jual.
Perubahan iklim memperparah situasi. Cuaca ekstrem seperti embun beku di Brasil (2021) merusak kebun kopi arabika, sementara El Niño 2023 memicu kekeringan di Asia Tenggara, mengurangi panen robusta Vietnam. Produksi teh di India juga anjlok akibat gelombang panas. Gangguan rantai pasok pasca-pandemi dan konflik geopolitik, termasuk serangan Houthi di Laut Merah (2024) dan perang Rusia-Ukraina, turut berkontribusi pada inflasi.
Kebijakan perdagangan negara produsen juga memengaruhi pasar. Larangan ekspor CPO Indonesia (April 2022) dan pembatasan ekspor kakao oleh Pantai Gading (2024) menciptakan gejolak pasokan. Aturan bebas deforestasi Uni Eropa (2023) menambah tantangan bagi eksportir sawit. Semua faktor ini saling terkait dan menciptakan dinamika harga yang kompleks.
Dampak bagi Indonesia: Antara Untung dan Rugi
Sebagai produsen CPO terbesar dunia, Indonesia diuntungkan oleh harga CPO yang tetap tinggi. Pada Maret 2024, nilai ekspor CPO meningkat meskipun volume ekspor turun. Kenaikan harga kakao juga menguntungkan, meskipun produksi nasional masih rendah. Kenaikan harga kopi robusta juga membawa angin segar bagi petani Indonesia.
Namun, industri pengolahan dalam negeri menghadapi tantangan. Industri pengolahan kakao terpukul karena ketergantungan pada impor biji kakao bermutu tinggi. Industri pengolahan kopi juga menghadapi tekanan biaya bahan baku. Produktivitas kebun karet masih rendah akibat tanaman tua dan serangan jamur. Indonesia, sebagai produsen teh peringkat ke-7 dunia, kurang terdampak gejolak harga global, namun peningkatan kualitas teh Indonesia menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang ekspor.
Peluang Hilirisasi dan Adaptasi Iklim
Fluktuasi harga komoditas perkebunan global menuntut Indonesia untuk mempercepat hilirisasi industri. Pengolahan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti biodiesel dan oleokimia akan meningkatkan nilai ekspor dan memperkuat posisi Indonesia. Adaptasi terhadap perubahan iklim juga krusial. Petani perlu menggunakan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan penyakit, serta menerapkan sistem irigasi berkelanjutan.
Pemerintah perlu memperkuat diplomasi perdagangan untuk melobi aturan keberlanjutan global yang adil. Menjaga stabilitas kebijakan ekspor sangat penting untuk memberikan kepastian bagi pelaku industri dan menarik investasi di sektor hilir. Kombinasi strategi hilirisasi, adaptasi iklim, dan diplomasi perdagangan yang efektif akan membantu Indonesia menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di pasar global.
*) Kuntoro Boga Andri adalah Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Perkebunan, Kementerian Pertanian