Papua Barat Targetkan Produksi Beras 8 Ribu Ton dari 1.505 Hektare Lahan Kering
Provinsi Papua Barat mendapat alokasi program pengembangan padi gogo seluas 1.505 hektare pada 2025, ditargetkan hasil panen mencapai 7.000-8.000 ton beras.

Provinsi Papua Barat akan mengembangkan program pengembangan padi gogo seluas 1.505 hektare pada tahun 2025. Program yang berasal dari Kementerian Pertanian ini ditargetkan mampu menghasilkan panen beras hingga 7.000-8.000 ton per tahun. Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHBun) Papua Barat, Yacob Selvinus Fonataba, mengumumkan hal ini pada penanaman perdana padi gogo di Manokwari, Senin (24/3).
Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan lahan kering yang ada di enam kabupaten di Papua Barat, yaitu Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Teluk Wondama, Kaimana, dan Fakfak. Kabupaten Pegunungan Arfak tidak termasuk dalam program ini. Inventarisasi lahan masih terus dilakukan, dengan data sementara menunjukkan lahan di Wondama (45 hektare), Manokwari Selatan (10 hektare), dan Manokwari (200 hektare) yang telah teridentifikasi.
Program ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Yacob Selvinus Fonataba menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk kesuksesan program ini, mengingat potensi besar lahan kering di Papua Barat yang belum dimanfaatkan secara maksimal. "Papua Barat punya potensi cukup besar, tapi belum digunakan secara maksimal dan optimal. Ini butuh kolaborasi semua pihak," ujarnya.
Optimalisasi Lahan Kering dan Peran Petani Lokal
Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia, khususnya petani lokal Papua. Pemerintah daerah aktif memberikan edukasi dan pelatihan kepada petani untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membudidayakan padi gogo. "Pengembangan padi gogo harus ditopang dengan pompa air, mesin, peralatan, bibit, pupuk, terutama kemampuan petani lokal-nya," jelas Yacob.
Yacob berharap pemerintah kabupaten di Papua Barat aktif menginformasikan potensi lahan kering yang dapat dimanfaatkan. Dukungan dari Komando Daerah Militer (Kodam) XVIII/Kasuari juga turut membantu program ini melalui pencetakan sawah seluas 52 hektare di tiga kabupaten: Manokwari (20 hektare), Fakfak (15 hektare), dan Teluk Bintuni (17 hektare).
Program ini menargetkan peningkatan produksi beras di Papua Barat secara signifikan. Dengan optimalisasi lahan kering dan peningkatan kapasitas petani lokal, diharapkan program ini dapat berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
Tantangan dan Harapan
Meskipun program ini menjanjikan, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Inventarisasi lahan yang masih berlangsung menunjukkan bahwa masih banyak potensi lahan kering yang belum teridentifikasi. Selain itu, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kemampuan petani lokal, juga menjadi faktor kunci keberhasilan program ini.
Pemerintah Provinsi Papua Barat berharap agar program ini dapat berjalan lancar dan mencapai target produksi yang telah ditetapkan. Kolaborasi antara pemerintah, militer, dan petani lokal sangat penting untuk memastikan keberhasilan program ini dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua Barat.
Keberhasilan program ini akan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengoptimalkan lahan kering untuk meningkatkan produksi pangan. Hal ini juga akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Papua Barat.
Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak dan komitmen dari pemerintah daerah dan petani lokal, Papua Barat optimis dapat mencapai target produksi beras yang telah ditetapkan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.