Produksi Kakao Aceh Timur Turun: 6.450 Ton di 2024
Produksi kakao Aceh Timur di tahun 2024 mencapai 6.450 ton, menurun dari tahun sebelumnya dan petani beralih ke tanaman sawit, meskipun Aceh Timur dulunya dikenal sebagai sentra kakao.

Kabupaten Aceh Timur mencatat produksi kakao sebanyak 6.450 ton pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 6.570 ton. Penurunan ini terjadi karena banyak tanaman kakao yang mati dan petani beralih ke komoditas lain, terutama sawit.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Timur, Murdhani, penurunan produktivitas kakao ini cukup signifikan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi daerah yang dulunya dikenal sebagai sentra kakao utama. Luas lahan kakao di Aceh Timur saat ini mencapai 13.572 hektare, diusahakan oleh 12.145 petani. Pusat produksi kakao terbesar berada di Kecamatan Darul Ihsan, Penaron, dan Ranto Pereulak.
Meskipun mengalami penurunan produksi kakao, Aceh Timur tetap berupaya meningkatkan hasil pertanian. Upaya peningkatan produksi terus dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan bagi para petani. Pemkab Aceh Timur juga mendorong diversifikasi komoditas pertanian. Selain kakao, komoditas lain seperti kemiri juga menjadi andalan daerah ini.
Produksi kemiri pada tahun 2024 mencapai 803 ton, dengan rata-rata produktivitas bulanan sekitar 100 kilogram. Lahan kemiri seluas 272 hektare diusahakan oleh 652 petani, terutama di Kecamatan Bireum Bayeun, Penaron, dan Serbajadi. Sementara itu, produksi lada pada tahun 2024 mencapai 4,49 ton dengan produktivitas bulanan rata-rata 337 kilogram, tersebar di lahan seluas 17,95 hektare.
Petani lada di Aceh Timur berjumlah 78 orang, pusat produksinya berada di Kecamatan Bireum Bayeun, Pereulak, Idi Tunong, Darul Ihsan, dan Darul Aman. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan produksi komoditas pertanian unggulan daerah, sehingga berbagai program peningkatan produktivitas dan diversifikasi komoditas terus digalakkan.
Aceh Timur, yang pernah menjadi sentra kakao utama pada tahun 1980 hingga 2000, kini menghadapi tantangan untuk kembali meningkatkan produksi. Penurunan ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mencari solusi agar petani tetap tertarik membudidayakan kakao dan meningkatkan produktivitasnya. Diversifikasi usaha pertanian dan pengembangan teknologi budidaya menjadi kunci penting dalam upaya tersebut.
Secara keseluruhan, data produksi pertanian di Aceh Timur pada tahun 2024 menunjukkan fluktuasi. Meskipun terjadi penurunan produksi kakao, komoditas lain seperti kemiri dan lada masih memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah. Pemerintah daerah perlu terus berupaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para petani melalui berbagai program inovatif dan dukungan yang berkelanjutan.