455 Ribu Kendaraan Padati Jabotabek di H+1 Lebaran 2025, Trans Jawa Terpadat!
Lonjakan signifikan arus balik Lebaran 2025 di Jabotabek mencapai 455 ribu kendaraan, didominasi jalur Trans Jawa, peningkatan hingga 39 persen dari kondisi normal.

Arus balik Lebaran 2025 meninggalkan catatan signifikan. PT Jasa Marga mencatat sebanyak 455.994 kendaraan kembali memadati wilayah Jabotabek pada periode H-1 hingga H+1 Idul Fitri 1446 Hijriah, atau tepatnya antara 31 Maret hingga 2 April 2025. Data ini merupakan akumulasi dari empat gerbang tol utama: Cikampek Utama (arah Trans Jawa), Kalihurip Utama (arah Bandung), Cikupa (arah Merak), dan Ciawi (arah Puncak). Peningkatan ini menunjukkan lonjakan aktivitas perjalanan setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 17,3 persen dibandingkan volume lalu lintas normal (388.634 kendaraan). Distribusi arus balik didominasi oleh jalur timur (Trans Jawa dan Bandung) dengan 215.044 kendaraan (47,2 persen), diikuti jalur barat (Merak) sebanyak 128.694 kendaraan (28,2 persen), dan jalur selatan (Puncak) sebanyak 112.256 kendaraan (24,6 persen). Data ini memberikan gambaran jelas mengenai pola perjalanan arus balik Lebaran tahun ini.
Lonjakan paling signifikan terjadi di jalur Trans Jawa dan Bandung. "Angka tersebut merupakan angka kumulatif arus lalu lintas (lalin) dari empat Gerbang Tol (GT) Utama," ujar Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana di Jakarta, Kamis. Pernyataan ini mengukuhkan data yang menunjukkan peningkatan volume kendaraan yang kembali ke Jabotabek.
Arus Balik Trans Jawa Meningkat Signifikan
Arus balik dari arah Trans Jawa melalui Gerbang Tol Cikampek Utama mencatat angka fantastis, yaitu 103.800 kendaraan. Ini menunjukkan peningkatan sebesar 39 persen dibandingkan kondisi normal. Sementara itu, arus balik dari arah Bandung melalui Gerbang Tol Kalihurip Utama mencapai 111.244 kendaraan, meningkat 33,1 persen dari volume lalu lintas normal. Gabungan arus balik dari Trans Jawa dan Bandung mencapai 215.044 kendaraan, meningkat 35,9 persen dari kondisi normal.
Peningkatan signifikan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mudik melalui jalur Trans Jawa dan Bandung. Kemudahan akses dan infrastruktur jalan tol yang semakin baik kemungkinan menjadi faktor pendorongnya. Pemerintah perlu terus meningkatkan kualitas infrastruktur untuk mengantisipasi lonjakan serupa di masa mendatang.
Meskipun terjadi peningkatan signifikan di jalur Trans Jawa dan Bandung, arus balik dari jalur lain juga mengalami perubahan. Arus balik dari arah Merak melalui Gerbang Tol Cikupa tercatat 128.694 kendaraan, mengalami penurunan 7,2 persen dibandingkan kondisi normal. Sementara itu, arus balik dari arah Puncak melalui Gerbang Tol Ciawi mencapai 112.256 kendaraan, meningkat 22,3 persen dari kondisi normal.
H+1 Lebaran: Lonjakan Tajam Arus Balik
Pada H+1 Lebaran (2 April 2025), lonjakan arus balik semakin terasa. Jasa Marga mencatat sebanyak 192.692 kendaraan kembali ke Jabotabek melalui empat gerbang tol utama. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 47,2 persen dibandingkan lalu lintas normal (130.893 kendaraan). Peningkatan ini menunjukkan konsentrasi arus balik yang signifikan terjadi pada hari tersebut.
Dari data tersebut, terlihat lonjakan signifikan pada jalur Trans Jawa dan Bandung. Di Gerbang Tol Cikampek Utama, tercatat 53.631 kendaraan, meningkat 110,5 persen dari kondisi normal. Gerbang Tol Kalihurip Utama mencatat 47.780 kendaraan, meningkat 72,1 persen dari kondisi normal. Gerbang Tol Ciawi mencatat 44.228 kendaraan, meningkat 41,4 persen. Sementara itu, Gerbang Tol Cikupa mencatat 47.053 kendaraan, hanya naik 1,4 persen dari kondisi normal.
Data ini menunjukkan distribusi arus balik yang tidak merata. Jalur Trans Jawa dan Bandung mengalami peningkatan yang sangat signifikan, sementara jalur Merak relatif stabil. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pihak terkait dalam merencanakan strategi manajemen lalu lintas di masa mendatang.
Kesimpulannya, arus balik Lebaran 2025 di Jabotabek mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama di jalur Trans Jawa dan Bandung. Data ini memberikan gambaran penting bagi pemerintah dan pihak terkait dalam mengelola dan meningkatkan infrastruktur serta strategi manajemen lalu lintas untuk menghadapi lonjakan serupa di tahun-tahun mendatang. Pemantauan dan antisipasi dini menjadi kunci untuk memastikan kelancaran arus balik Lebaran di masa mendatang.