Fakta 7 Korban Jiwa Harimau Sumatera: Dishut Lampung Ungkap Solusi Atasi Interaksi Manusia Satwa Liar dengan Tambahan Pakan
Dinas Kehutanan Lampung mengemukakan solusi inovatif untuk meredam interaksi manusia satwa liar, terutama harimau dan gajah. Apa langkah konkret yang diambil?

Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Lampung baru-baru ini mengemukakan solusi strategis untuk mengatasi interaksi negatif antara satwa liar dan manusia di wilayahnya. Penambahan pakan hidup bagi satwa liar dianggap sebagai langkah krusial dalam meredam konflik yang semakin meningkat.
Kepala Dishut Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, menyatakan bahwa tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), serta Taman Nasional Way Kambas (TNWK) akan berkoordinasi dengan TWNC. Koordinasi ini bertujuan untuk menyediakan tambahan pakan di lapangan guna mengurangi insiden konflik.
Langkah ini diambil menyusul adanya indikasi peningkatan interaksi negatif harimau dengan manusia, yang seringkali berujung pada kerugian. Krisis pakan alami menjadi pemicu utama, memaksa satwa keluar dari habitat aslinya dan mendekati permukiman penduduk.
Pemicu Utama Peningkatan Interaksi Negatif Satwa
Peningkatan interaksi negatif antara satwa liar dan manusia di Lampung disinyalir kuat akibat kelangkaan pakan utama satwa di habitatnya. Salah satu faktor dominan adalah merebaknya virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang populasi babi hutan.
Babi hutan merupakan sumber pakan utama bagi harimau Sumatera. Kematian massal babi hutan akibat ASF menyebabkan harimau kekurangan makanan, sehingga mereka terpaksa mencari mangsa di luar kawasan konservasi.
Selain itu, adanya anggapan bahwa babi hutan adalah hama juga turut berkontribusi pada berkurangnya populasi pakan alami. Meskipun babi hutan memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat, proses pemulihan populasinya membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Faktor-faktor ini secara kolektif menciptakan tekanan ekologis yang mendorong satwa liar, khususnya harimau, untuk memasuki wilayah yang dihuni manusia. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik dan insiden yang merugikan kedua belah pihak.
Dampak Nyata Interaksi Negatif dan Data Kejadian
Interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di Lampung telah menimbulkan dampak serius, termasuk korban jiwa dan kerugian materi. Data mencatat bahwa sepanjang periode 2024-2025, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mengalami delapan insiden interaksi negatif yang melibatkan Harimau Sumatera.
Dari delapan insiden tersebut, tujuh di antaranya mengakibatkan korban jiwa dari masyarakat. Angka ini menunjukkan tingkat fatalitas yang mengkhawatirkan dari konflik harimau dengan manusia di wilayah tersebut.
Tidak hanya harimau, satwa lain seperti gajah juga kerap terlibat dalam interaksi negatif. Di Kabupaten Lampung Timur, pada Juni 2025, sekelompok gajah memasuki area perkebunan di perbatasan Desa Braja Asri dan Braja Sakti, menyebabkan kerugian materi yang signifikan bagi petani.
Catatan sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa interaksi negatif manusia dan gajah di Way Kambas rata-rata terjadi 185 kali per tahun di 13 desa terdampak. Sementara itu, di Bukit Barisan Selatan (BBS), tercatat rata-rata 53 kejadian per tahun di 12 desa. Untuk interaksi negatif manusia dan harimau, rata-rata 22 kejadian per tahun di 14 desa, dengan dampak kehilangan ternak sebanyak 192 ekor serta korban jiwa yang tidak sedikit.
Strategi Penambahan Pakan dan Koordinasi Lintas Sektor
Untuk merealisasikan solusi penambahan pakan, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung akan mengatur teknis pengadaan dan penyalurannya. Pakan hidup bagi satwa liar dimungkinkan untuk didapatkan dari provinsi lain, menandakan upaya lintas wilayah dalam mengatasi krisis ini.
Koordinasi erat akan dilakukan antara tim BKSDA, TNBBS, TNWK, dan TWNC untuk memastikan implementasi penambahan pakan berjalan efektif. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi frekuensi satwa liar keluar dari habitatnya untuk mencari makanan.
Meskipun penambahan pakan menjadi solusi utama, Dishut Lampung juga mempertimbangkan solusi pelengkap lainnya. Hal ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam mengelola interaksi manusia dan satwa liar, mengingat kompleksitas masalah yang ada.
Upaya ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan meminimalkan konflik. Dengan memastikan ketersediaan pakan yang cukup di dalam kawasan, diharapkan satwa liar dapat tetap berada di habitat alaminya, sehingga mengurangi risiko interaksi negatif dengan masyarakat.