KKP dan FAO Luncurkan Sicekatan: Aplikasi Digital untuk Kendalikan Penyakit Ikan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama FAO meluncurkan aplikasi Sicekatan, sebuah sistem pelaporan cepat penyakit ikan berbasis digital untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah resmi meluncurkan sebuah inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan budidaya di Indonesia. Inovasi tersebut berupa aplikasi digital bernama Sistem Pelaporan Cepat Penyakit Ikan (Sicekatan), yang dirancang untuk mempermudah pelaporan dan penanganan penyakit ikan secara cepat dan tepat.
Aplikasi Sicekatan merupakan hasil kerja sama melalui Program Kerja Sama TCP/INS/3903 yang dimulai sejak pertengahan 2023 dan akan berlangsung hingga awal 2025. Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa proyek ini sangat penting untuk mendukung kebijakan KKP dalam mengembangkan perikanan budidaya yang berkelanjutan berbasis ekonomi biru. "Proyek kerja sama ini sangat mendukung subsektor perikanan budidaya yang menjadi salah satu tulang punggung percepatan target swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional," ujar Tebe dalam keterangannya di Jakarta.
Peluncuran Sicekatan dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi sektor perikanan budidaya, terutama serangan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasit. Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan kesiapsiagaan dalam pengendalian penyakit ikan dapat meningkat secara signifikan, sehingga kerugian ekonomi akibat wabah penyakit dapat diminimalisir.
Meningkatkan Efisiensi Pengendalian Penyakit Ikan
Aplikasi Sicekatan dirancang untuk memberikan kemudahan bagi para pembudidaya ikan dalam melaporkan gejala dan mendokumentasikan penyakit yang menyerang ikan mereka. Sistem ini memungkinkan pelaporan yang cepat dan akurat, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat waktu. "Melalui aplikasi Sicekatan, pembudidaya ikan dapat melaporkan gejala dan dokumentasi penyakit ikan dengan lebih mudah dan mendapatkan saran penanganan dengan cepat dan tepat dari gugus tugas tanggap darurat penyakit ikan," jelas Direktur Ikan Air Laut Ditjen Perikanan Budi Daya KKP, Tinggal Hermawan. Sistem ini juga terintegrasi dengan pengujian laboratorium untuk solusi penanganan yang lebih spesifik.
Salah satu fitur unggulan Sicekatan adalah kemudahan akses. Aplikasi ini tersedia dalam versi web dan mobile (Android), sehingga dapat diakses oleh pembudidaya ikan di berbagai lokasi. "Aplikasi tersebut diharapkan dapat diakses pada minggu kedua April 2025," tambah Hermawan. Dengan demikian, informasi mengenai penyakit ikan dapat diakses dan dilaporkan dengan lebih mudah dan cepat.
Selain Sicekatan, kerjasama KKP dan FAO juga menghasilkan pengembangan sistem informasi aplikasi SSMPI. Kedua aplikasi ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan efisiensi pengendalian penyakit ikan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya dan mencapai swasembada pangan.
Dukungan FAO dalam Optimalisasi Sistem
Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menjelaskan bahwa sebelumnya sistem peringatan penyakit ikan yang berbasis SMS memiliki keterbatasan dalam hal data yang diterima dari pembudidaya ikan. Dengan dukungan proyek kerjasama ini, sistem Sicekatan telah dioptimalkan menjadi sistem berbasis Android yang lebih mudah diakses dan praktis, serta dilengkapi dengan informasi dan menu yang lebih interaktif.
Aryal menambahkan bahwa optimalisasi sistem ini diharapkan dapat mempercepat koordinasi dalam penanganan penyakit ikan oleh gugus tugas. "Dengan begitu, diharapkan koordinasi dalam penanganan penyakit ikan oleh gugus tugas dapat menjadi lebih cepat," katanya. Hal ini menunjukkan komitmen FAO dalam mendukung Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di sektor perikanan.
Program kerja sama TCP/INS/3903 ini menghasilkan tiga output utama: peningkatan kapasitas penilaian risiko penyakit ikan, penguatan kapasitas Pos Pelayanan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Terpadu (POSIKANDU), dan peningkatan keterampilan serta pengetahuan dalam perencanaan tanggap darurat penyakit ikan. Ketiga output ini saling melengkapi dan berkontribusi pada peningkatan daya saing sektor perikanan budidaya di Indonesia.
Dengan diluncurkannya aplikasi Sicekatan, diharapkan sektor perikanan budidaya di Indonesia dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan penyakit ikan. Aplikasi ini merupakan contoh nyata bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para pembudidaya ikan di Indonesia.