{{caption}}
Pertanian Topang Ekonomi NTB di Tengah Kontraksi Triwulan I 2025

Sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mencapai 2,09 persen, di tengah kontraksi ekonomi pada triwulan I 2025.

{{caption}}
Pertumbuhan Pertanian Double Digit: Pertama Kali dalam 15 Tahun!

Sektor pertanian Indonesia tumbuh 10,52 persen yoy pada triwulan I 2025, tertinggi dalam 15 tahun terakhir, didorong panen raya dan permintaan domestik.

{{caption}}
NTB Pacu Ekonomi Non-Tambang, Bidik Pertumbuhan Inklusif

Pemerintah NTB fokus diversifikasi ekonomi ke sektor non-tambang seperti agromaritim, UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

{{caption}}
Pertanian: Mesin Penggerak Utama Ekonomi Sulawesi Selatan di 2024

Sektor pertanian menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan di tahun 2024, mencapai 5,02 persen (yoy), didorong peningkatan produksi padi dan konsumsi domestik, serta optimisme untuk tahun 2025.

{{caption}}
BI Dorong Pemulihan Ekonomi NTT di 2025: Target Pertumbuhan di Atas 5 Persen

Bank Indonesia (BI) NTT mengajak seluruh pihak berkolaborasi untuk memperkuat pemulihan ekonomi NTT di tahun 2025, dengan target pertumbuhan di atas 5 persen dan fokus pada optimalisasi sektor pertanian serta peningkatan investasi di sektor pariwisata dan

{{caption}}
Dorong Ekonomi NTB, Fokus Optimalkan Sektor Non-Tambang

Kepala BPS NTB menyarankan optimalisasi sektor non-tambang, seperti pertanian dan perdagangan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang sempat terdampak penurunan produksi tambang.

{{caption}}
Pertumbuhan Ekonomi NTB 2024: 5,30 Persen, Didorong Sektor Pertambangan

Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2024 mencapai 5,30 persen, didorong oleh sektor pertambangan meskipun mengalami penurunan di triwulan IV, menurut data BPS.

{{caption}}
Produksi Padi NTB Turun 5,53 Persen di 2024: Tantangan bagi Ketahanan Pangan

Penurunan produksi padi di NTB sebesar 5,53 persen pada 2024 disebabkan oleh berkurangnya luas panen, menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.