NTB Bidik Pariwisata Berkelanjutan untuk Saingi Bali
NTB menyiapkan peta jalan pariwisata berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas destinasi dan bersaing dengan Bali, dengan fokus pada peningkatan kualitas layanan dan pengembangan kawasan terintegrasi.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berupaya keras untuk mengembangkan sektor pariwisatanya agar mampu bersaing dengan Bali. Langkah strategis yang diambil adalah dengan fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata NTB, Jamaluddin Malady, di Mataram, Kamis (03/04).
Jamaluddin menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah NTB untuk lima tahun ke depan adalah menjadikan NTB sebagai destinasi wisata mendunia. Strategi ini akan dijalankan melalui peningkatan kualitas destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia mengakui dominasi Bali dalam industri pariwisata Indonesia, dan menyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan menjadi kunci untuk bersaing.
"Di Indonesia ini terkait dengan pariwisata, apalagi Bali, tidak bisa kami lawan. Caranya seperti apa supaya kami bisa bersaing dengan Bali dan daerah lain yang sudah banyak penerbangan? Tentu pariwisata berkelanjutan," ujar Jamaluddin.
Meningkatkan Kualitas Layanan dan Sapta Pesona
Salah satu fokus utama NTB adalah peningkatan kualitas layanan atau hospitality. Aspek ini dinilai sangat penting untuk menarik wisatawan dan membuat mereka kembali berkunjung. Tidak hanya pemerintah, pelaku industri pariwisata, agen perjalanan, hingga pemandu wisata juga perlu meningkatkan kualitas layanan dan penerapan konsep Sapta Pesona (konsep sadar wisata).
Peningkatan kualitas layanan ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dengan begitu, NTB dapat membangun citra positif sebagai destinasi wisata yang ramah dan nyaman.
Hal ini sejalan dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berdampak jangka panjang, bukan hanya sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan.
Potensi Pariwisata NTB dan Perbandingan dengan Bali
Pada tahun 2019, NTB mencatat kunjungan wisatawan sebanyak 3,7 juta orang, terdiri dari 2,15 juta wisatawan asing dan 1,55 juta wisatawan domestik. Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian NTB pada tahun tersebut mencapai Rp2,68 triliun, yang berasal dari bisnis akomodasi dan makan-minum.
Sebagai perbandingan, Bali pada tahun yang sama mencatat kunjungan wisatawan sebanyak 16,82 juta orang, dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian mencapai Rp58,69 triliun. Perbedaan ini menunjukkan potensi besar yang masih dapat digali oleh NTB.
Meskipun angka kunjungan wisatawan di NTB masih jauh di bawah Bali, potensi alam dan budaya yang dimiliki NTB sangat menjanjikan.
Pengembangan 10 Kawasan Pariwisata Terintegrasi
Pemerintah NTB telah menyiapkan rencana strategis selama lima tahun ke depan untuk memajukan sektor pariwisata. Rencana tersebut meliputi pengembangan 10 kawasan pariwisata terintegrasi untuk menghubungkan berbagai destinasi wisata yang ada.
Kawasan-kawasan tersebut mencakup konektivitas Gili Tramena (Trawangan, Meno, dan Air) di Lombok Utara hingga Sekotong di Lombok Barat, destinasi sekitar Mandalika di Lombok Tengah hingga Kabupaten Sumbawa Barat, Geopark Rinjani, serta destinasi terhubung dari Samota hingga Sape di Pulau Sumbawa.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menekankan pentingnya konektivitas antar destinasi untuk mencegah agar destinasi baru tidak mematikan destinasi lama, dan menciptakan sinergi yang positif.
Dengan pengembangan kawasan terintegrasi ini, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik NTB sebagai destinasi wisata dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Pariwisata berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan NTB dalam bersaing di kancah pariwisata nasional dan internasional. Dengan fokus pada peningkatan kualitas layanan, pengembangan kawasan terintegrasi, dan penerapan konsep sadar wisata, NTB optimistis dapat menjadi destinasi wisata yang unggul dan berkelanjutan.