Macan Kumbang Remaja Dievakuasi dari Pemukiman Warga Banten
Balai Besar KSDA Jawa Barat berhasil mengevakuasi seekor macan kumbang remaja betina yang masuk ke pemukiman warga di Desa Ciwarna, Banten, setelah memakan enam ekor kambing.

Sebuah operasi penyelamatan satwa liar berhasil dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat Wilayah I Serang. Mereka berhasil mengevakuasi seekor macan kumbang dari permukiman warga di Desa Ciwarna, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten. Operasi ini melibatkan kerja sama dengan Taman Safari Indonesia dan memakan waktu kurang lebih dua minggu.
Macan kumbang, yang diperkirakan berusia 1-2 tahun dan berjenis kelamin betina, telah meresahkan warga sekitar karena telah memangsa enam ekor kambing milik warga. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar. Proses evakuasi melibatkan pemasangan kandang jebak yang akhirnya berhasil menangkap macan kumbang tersebut pada Rabu, 26 Maret 2024, sekitar pukul 22.00 WIB.
Kepala Resort Konservasi Wilayah III-Seksi Konservasi Wilayah I Banten, Tuwuh Rahadianto, menjelaskan bahwa upaya awal menggunakan kandang jebak yang lebih kecil gagal karena macan kumbang masih bisa keluar. Kerja sama dengan Taman Safari Indonesia akhirnya memberikan solusi dengan penyediaan kandang jebak yang lebih besar dan tim yang berpengalaman. Evakuasi macan kumbang ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi dalam upaya konservasi satwa liar.
Macan Kumbang Muda dan Ancaman Teritorial
Tuwuh Rahadianto menduga macan kumbang tersebut berasal dari kawasan hutan di sekitar pemukiman warga. Kemungkinan besar, macan kumbang ini sedang mencari wilayah teritorial baru. "Ada kemungkinan macam ini dari kawasan hutan karena kemungkinan dekat dengan kawasan hutan negara," kata Tuwuh. Meskipun kondisi hutan dinilai masih terjaga, perlu diteliti lebih lanjut penyebab macan kumbang tersebut keluar dari habitat aslinya.
Macan kumbang, yang umumnya hidup berpasangan atau soliter untuk menjaga wilayah teritorialnya, jarang hidup secara berkelompok. Perilaku macan kumbang ini menunjukkan adanya kemungkinan persaingan teritorial atau kurangnya sumber daya di habitat aslinya. Hal ini menjadi perhatian penting bagi pihak BKSDA untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
Setelah berhasil dievakuasi, macan kumbang tersebut akan diteliti lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kesehatannya dan rencana pelepasliarannya kembali ke habitat aslinya. Pihak BKSDA berkomitmen untuk memastikan keselamatan satwa liar dan keamanan masyarakat.
Langkah-langkah Antisipasi dan Imbauan kepada Masyarakat
BKSDA berencana memasang kamera track di lokasi kejadian untuk memantau pergerakan satwa liar lainnya dan memastikan tidak ada satwa dilindungi lain yang mendekati pemukiman warga. Langkah ini penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Pemantauan intensif akan dilakukan untuk mengamati aktivitas satwa liar di sekitar area tersebut.
Tuwuh Rahadianto mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan berhati-hati. Jika menemukan satwa liar seperti macan kumbang atau satwa dilindungi lainnya, masyarakat diimbau untuk segera melapor ke BKSDA. "Jangan melakukan tindakan yang melukai apalagi sampai membunuh satwa tersebut," tegas Tuwuh. Pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar menjadi kunci keberhasilan upaya konservasi.
Kejadian ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam melindungi satwa liar yang dilindungi. Upaya konservasi yang berkelanjutan sangat penting untuk menjaga kelestarian satwa liar dan mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.
BKSDA akan terus melakukan penelitian dan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Pemantauan dan edukasi kepada masyarakat akan terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi satwa liar.