Sukses! Volume Sampah Lebaran 2025 di Malang Turun, Edukasi Masyarakat Jadi Kunci
Volume sampah di TPA Supit Urang, Kota Malang selama Lebaran 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya; kesadaran masyarakat dan edukasi Pemkot Malang jadi faktor kunci.

Kota Malang berhasil menurunkan volume sampah selama periode Lebaran 2025. Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan Lebaran 2024. Penurunan ini menjadi bukti nyata keberhasilan program edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Pada H+1 Lebaran 2024, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang menampung sebanyak 322.060 kilogram sampah. Namun, pada H+1 Lebaran 2025, jumlahnya turun menjadi 305.940 kilogram. Hal ini menunjukkan penurunan sebesar 16.120 kilogram. Meskipun pada H+2 Lebaran 2024, volume sampah meningkat drastis menjadi 539.110 kilogram, tren penurunan pada tahun 2025 tetap menjadi kabar baik bagi lingkungan Kota Malang.
Penurunan volume sampah ini didominasi oleh sampah organik, khususnya sisa makanan. Hal ini menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengurangi produksi sampah makanan, terutama selama perayaan Lebaran yang identik dengan banyaknya kegiatan masak-memasak untuk hidangan keluarga dan tamu.
Faktor Penurunan Volume Sampah
Kepala Bidang Persampahan dan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) DLH Kota Malang, Roni Kuncoro, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan volume sampah. Salah satu faktor utama adalah peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah di lingkungan masing-masing. "Pada H+1 kemarin volume sampah yang masuk TPA Supit Urang ada sebanyak 305.940 kilogram," kata Roni. Pola pengelolaan sampah di tingkat masyarakat terbukti memberikan dampak positif terhadap jumlah sampah yang masuk ke TPA Supit Urang.
DLH Kota Malang juga berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat. Sosialisasi dan edukasi yang intensif mengenai pengelolaan sampah, khususnya mengurangi sampah organik, telah membuahkan hasil. "Kami terus menerus mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah, terutama dengan mengurangi sampah organik yang dihasilkan selama perayaan Lebaran," ujar Roni. Edukasi ini tidak hanya sebatas tata cara pengelolaan sampah, tetapi juga mencakup penegakan regulasi daerah dan penerapan sanksi bagi pelanggar.
Selain edukasi, penegakan regulasi juga menjadi kunci keberhasilan. DLH Kota Malang konsisten dalam menegakkan aturan dan memberikan sanksi kepada mereka yang melanggar peraturan pengelolaan sampah. Langkah tegas ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Kota Malang. "Langkah ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Kota Malang," ucap Roni.
Komitmen Pemkot Malang
Pemkot Malang berkomitmen untuk terus meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Tujuannya adalah untuk menjaga tren penurunan volume sampah dan memastikan kelestarian lingkungan di Kota Malang tetap terjaga. Dengan menggabungkan edukasi dan penegakan regulasi, diharapkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah akan terus meningkat.
Program-program edukasi yang lebih inovatif dan menarik akan terus dikembangkan. Pemkot Malang juga berencana untuk meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sektor swasta, untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Harapannya, tren penurunan volume sampah ini akan terus berlanjut dan bahkan meningkat di tahun-tahun mendatang.
Dengan keberhasilan ini, Kota Malang memberikan contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Semoga keberhasilan ini dapat menginspirasi kota-kota lain di Indonesia untuk menerapkan strategi serupa dalam pengelolaan sampah.
Penurunan volume sampah di Kota Malang selama Lebaran 2025 ini membuktikan bahwa upaya edukasi dan kesadaran masyarakat sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Komitmen Pemkot Malang untuk terus meningkatkan sosialisasi dan edukasi diharapkan dapat menjaga tren positif ini dan menciptakan lingkungan yang lebih lestari.